Minggu, 28 Maret 2021

NOVEL REMBULAN TENGGELAM DI WAJAHMU

 

doc.pribadi

IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Republika

Cetakan IV, Februari 2010

427 halaman

Rating di goodreads : 4,30

 

Disini adakah yang sudah baca karya dari Tere Liye? Atau seliweran lihat-lihat karya beliau?

Cek yu, sudah baca buku apa aja nih

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tere_Liye_(penulis)


Bagi sudah membaca novel beliau, bisa jadi semua mengetahui beraneka ragam genre yang beliau tulis dan gaya penulisan beliau, novel yang akan saya sampaikan yang bisa disebut salah satu genre sufisme (filsafat), kalau lihat dr beberapa pendapat dr blog.

Bila diurutkan, ini adalah novel kedelapan  dari 42 karya yang sudah diterbitkan (belum dihitung serial anak mamak dan sang penindai yang berganti judul buku).

*bila salah hitung mohon dikoreksi bersama ya, mungkin diriku siwerrr. Sebelum terlalu panjang prolognya akan saya sampaikan Blurbnya terlebih dahulu ya.

 

BLURB

Tutup mata kita. Tutup pikiran kita dari carut marut kehidupan. Mari berpikir takjim sejenak. Bayangkan saat ini ada satu malaikat bersayap indah datang kepada kita, lantas lembut berkata : ” Aku memberikan kau kesempatan hebat. Lima kesempatan untuk bertanya tentang rahasia kehidupan, dan aku akan menjawabnya langsung sekarang. Lima pertanyaan. Lima jawaban. Apakah pertanyaan pertamamu?”

 

Maka apakah kita akan bertanya : Apakah cinta itu? Apakah hidup ini adil? Apakah kaya adalah segalanya? Apakah kita memiliki pilihan dalam hidup? Apakah makna kehilangan?

 

Ray (tokoh utama dalam kisah ini), ternyata memiliki kecamuk pertanyaan sendiri. Lima pertanyaan sebelum akhirnya dia mengerti makna hidup dan kehidupannya.

 

Siapkan energi Anda untuk memasuki dunia ‘fantasi’ Tere Liye tentang perjalanan hidup. Di sini hanya ada satu rumus: semua urusan adalah sederhana. Maka mulailah membaca dengan menghela nafas lega…

 

“Tere Liye, lewat novel ini mengajarkan saya bagaimana memaknai kehilangan.  Rasa kehilangan yang begitu rumit, sakit, tapi tidak untuk Tere Liye, semuanya begitu indah dalam bingkai kesederhanaan.” 

Sita Elanda Lestari – Mahasiswi UI

 

Novel yang keras dan menyentuh.  Tentang anak manusia yang apa adanya.  Aku berharap jadi ‘si gigi kelinci,’ mencintai dan dicintai dan berakhir jadi bidadari surga.” 

Ida Safitri- pembaca novel Tere Liye

 

Satu hal yang membuat buku ini bagus: meraih surga dan dunia dengan sederhana.”  

Yudi Randa – Mahasiswi IPMI Business School 

 

CUPLIKAN NOVEL

Salah satu novel yang pada saat membacanya membuat  saya larut pada setiap untaian kalimat dan emosi saya naik turun, selama membaca ceritanya. Walau banyak berita dan isu seputar penulisnya tapi saya suka dengan karya-karyanya Bang Tere, terutama karya awalnya, berasa beda aja, entah mengapa.

 

Dari sekian banyak novel Bang Tere, ketika membaca judulnya saja, terlihat puitis “Rembulan tenggelam diwajahmu” membuat penasaran dengan ceritanya, yang ternyata setelah baca, buku ini bagus banget! Walau sudah ada cover baru tapi cover lama tetap dihati. 

 

Novel ini berkisah tentang seorang anak manusia bernama Rehan Raujana, sebut saja Ray , sejak kecil Ray tinggal di panti asuhan yang sangat menyedihkan, pengurus panti asuhan tersebut yang disebutkan sebagai ‘penjaga panti sok suci ‘. Ray tumbuh menjadi pemberontak, Ray sangat membenci penjaga panti sok suci yang selalu menyuruh anak-anak panti asuhan untuk bekerja menjadi penyemir sepatu dan pengamen, yang uangnya disetor ke penjaga panti untuk pergi haji. Ray benci akan kondisi itu. 

 

Namun, dia termasuk orang yang terpilih. Tuhan memberikan dia kesempatan agar dia mendapat jawaban-jawaban yang selalu dia nantikan. Disitulah muncul seorang malaikat yang berwujud manusia dengan wajah yang sangat lembut, dengan jubah putihnya mendatangi Ray. Dengan lembut berkata, lima pertanyaan, lima jawaban. Akhirnya Ray pun diajak kembali menyaksikan kisah-kisah masa lalunya, mengajak Ray untuk mendengar jawaban atas pertanyaan , disitulah mailakat itu menjawab semua pertanyaan hidup Ray ?

 

1. Kenapa dia dibesarkan di panti asuhan yang busuk, kenapa tidak di tempat lain? Kenapa dia hidup seperti ini?

2. Kenapa hidup tidak adil? Dia tidak pernah melihat kedua orangtuanya, tidak seperti anak-anak lain mendapatkan kasih sayang ayah bundanya. kenapa setiap orang yang berbuat baik malah menemui banyak masalah, banyak kesulitan. Namun, para penjahat selalu diberikan kemudahan, harta yang banyak. Kenapa?

3. Kenapa langit tega mengambil istrinya, orang yang mungkin hanya bisa membahagiakan dia. Kenapa Tuhan tega dan tidak habis-habisnya memberikan kesulitan terhadapnya?

4. Kenapa hatinya masih terasa kosong, padahal dia telah menyibukkan diri dengan segala aktivitas, menjalarkan usaha bisnisnya yang sampai menggurita. Yang dulu beli senar gitar untuk mengamen pun harus meminjam dari pengamen lainnya, hidup di sebelah bantaran kali yang bau. Namun, saat usaha propertinya dimana-dimana, mau makan apa saja di mana saja pun tinggal berangkat, selalu saja ada kosong, ada yang hampa dalam hatinya. Kenapa?

5. Kenapa Tuhan tidak segera memanggil dirinya saja, malah memberikan berbagai penyakit-penyakit pada dirinya padahal badannya yang kekar dan gempal. Dari serangan jantung, kadar gula tinggi sampai harus cangkok ginjal harus dilakukannya. Kenapa?

 

Orang yang berwajah lembut itupun menjawan tiap pertanyaan. Ya, tiap satu pertanyaan ada satu jawaban. Yaa itulah lima pertanyaan Ray semasa hidupnya. Mungkin tidak jarang kita semua pun mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang sama tentang kehidupan ini, tentang takdir kita masing-masing.

 

Sejujurnya ketika menutup buku ini, saya sedikit bingung akan menulis apa dalam review kali ini. Karena ada begitu banyak hal yang ingin dituliskan untuk memperlihatkan bahwa buku ini telah menawan hatiku, mengesankan jiwaku.

 

Ada banyak pesan moral yang disampaikan penulis melalui karakter-karakter dalam buku ini. Setelah baca buku ini, kita akan semakin banyak bersyukur, serta bisa belajar ikhlas. Dari kisah yang ditulis oleh Tere Liye ini, kita pun bisa belajar  tentang kesederhaan. Buku ini menyadarkan saya bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini, dan apa pun yang kita lakukan, akan memberikan dampak bagi diri sendiri dan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. 

 

Novel yang menyajikan kotemplasi kehidupan, tentu bukan hal yang mudah untuk menuliskannya, namun disajikan dengan sesederhana ini. Ini bukan buku yang rumit  untuk dibaca. Tapi bersiaplah, buku ini akan membawamu menyelami kehidupan Ray! Semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil hikmahnya 

 

Entah kakak-kakak disini sudah tau atau bahkan sudah menonton, bahwa novel ini salah satu yang difilmkan dan saya sudah menonton nya. Walau dibagi dua part dan yang kedua entah kapan, mengingat keburu melanda bumi ini.

 

“Selalu berprasangka baik, jika di sederhanakan, berharaplah sedikit dan memberi banyak. Maka kau akan siap menerima segala bentuk keadilan Tuhan (halaman 201)

 

"Ketika kau merasa hidupmu menyakitkan dan merasa muak dengan semua penderitaan maka itu saatnya kau harus melihat ke atas, pasti ada kabar baik untukmu, janji-janji, masa depan. Dan sebaliknya, ketika kau merasa hidupmu menyenangkan dan selalu merasa kurang dengan semua kesenangan maka itulah saatnya kau harus melihat ke bawah, pasti ada yang lebih tidak beruntung darimu. Hanya sesederhana itu. Dengan begitu, kau akan selalu pandai bersyukur.”
(halaman 416-417)

Minggu, 21 Maret 2021

MENGENAL TRADISI DI MADURA MELALUI NOVEL DAMAR KAMBANG

doc.pribadi


Judul Buku                DAMAR KAMBANG 

Penulis                     Muna Masyari 

Penerbit                :    Kepustakaan Populer Gramedia 

Jumlah Halaman    :    212 halaman, Cetakan pertama, Desember 2020 

ISBN                     : 978-602-481-456-4 

Baca melalui aplikasi @gramediadigital


Novel ini mengisahkan betapa mudah nasib perempuan dipermainkan tradisi, tanpa perlu menimbang perasaan dan masa depannya. Cebbhing, gadis berusia 14 tahun yang harus gagal menikah dengan lelaki pujaannya lantaran keluarga calon suaminya tidak membawakannya rumah hantaran saat mokka’ blabar.

Keputusaan sang Ayah membawa persoalan panjang dan kerumitan hidup bagi Cebbhing. Rumah hantaran menjadi perkara pelik yang menentukan martabat dan harga diri keluarga.

Walaupun masih wilayah Madura, setiap daerah memiliki adat masing-masing. Ketidaktahuan yang tidak dikomunikasikan di awal. Dalam diamnya ketika harga dirinya terkocak hingga menyimpan kesumat dan mengirim pelet agar keluarga Cebbhing dapat ia permalukan

“Mereka akan merasakan ganjaran karena telah mempermalukan kita! Jika darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa, penghinaan juga harus dibayar penghinaan!”
(hal.57)

Damar Kambang menyuguhkan dengan lebih dari satu sudut pandang. Tradisi pernikahan Madura ditautkan dalam gelanggang karapan sapi, carok, liku kehidupan santri, sekaligus kekuatan mistis (santet). Karakter para tokohnya begitu kuat.

Mungkin beberapa istilah dalam bahasa maduranya dibuat footnote bukan glosarium, biar langsung dipahami, terutama seperti saya yang tidak mengerti bahasa Madura 😆, tapi tetap bisa diikuti alur ceritanya.

Pembaca seolah diajak untuk mengenal lebih jauh tentang berbagai tradisi masyarakat di Madura. Dalam novel tersebut satu tradisi yang diangkat sebagai topik utamanya ialah damar kambang sebagai ritual perkawinan.

Novel ini bukan hanya tentang keberagaman sosial budaya di Indonesia. Kehadiran buku ini memperkaya bacaan tentang isu-isu perempuan, persoalan domestik, bahwa perempuan adalah manusia, bukan barang yang bisa diatur, dinego seperti barang, dan berhak menentukan kebahagiaannya.

Sudah pernah di posting sebelumnya di instagram dengan perubahan yang diperlukan

Minggu, 14 Maret 2021

NOVEL SUMMER IN SEOUL

doc.pribadi


Judul Buku : SUMMER IN SEOUL 

Penulis : ILANA TAN 

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan ke-23 : September 2014 

ISBN 978-602-03-1014-5 

Jumlah halaman : 280 hlm 

Baca melalui aplikasi @gramediadigital


“Kalau suatu saat nanti kau rindu padaku, kau mau memberitahuku? …. Agar aku bisa langsung berlari menemuimu.”
(hlm. 243)

Sandy alias Han Soon-Hee, gadis blasteran Indonesia-Korea, tiba-tiba dengan mudahnya  menerima permintaan untuk berpose sebagai kekasih penyanyi muda terkenal di Korea, Jung Tae-Woo. Bukan alasan Soon-Hee adalah penggemar berat Jung Tae-Woo. Semua ini diawali ketika secara tidak sengaja, handphone Han Soon-Hee tertukar dengan milik Jung Tae-Woo.

Dari pertemuan itu, terbersit ide untuk menjadikan Han Soon-Hee sebagai kekasih rahasia Jung Tae-Woo. Semua ini dilakukan hanya untuk menepis gosip yang menyatakan bahwa Jung Tae-Woo adalah seorang gay.

Ternyata semua ini tidak berakhir begitu saja di tabloid gosip. Wartawan dan para penggemar semakin penasaran dengan sosok misterius perempuan yang bersama Tae-Woo. Soon-Hee juga harus merahasiakan semua ini dari orang-orang terdekatnya.

Di balik semua kepura-puraan ini, diam-diam, mereka mulai saling tertarik.

Tapi yang paling membuat mereka resah adalah kisah empat tahun lalu, sebuah kejadian ketika Jung Tae-Woo sedang mengadakan acara jumpa penggemar, kejadian yang membuat Jung Tae-Woo vakum selama empat tahun. Ada kenyataan tak terduga yang mungkin membuat mereka tidak bisa bersatu.

Penulis menggunakan gaya bahasa yang sangat baik, mudah dimengerti, dan tidak bertele-tele. Sebenarnya lebih seru kalau aroma musim panas di dalam novel ini, sesuai dengan judulnya "Summer in Seoul". Berharap akan ada kisah yang berhubungan secara langsung dengan musim panas. Misal, festival atau budaya setempat di musim ini.

Bagi yang mengikuti tetralogi novel ini, pasti suka mengaitkan dengan novel lainnya, yang sudah baca tentu ingat dengan tokoh Tara di Autumn in Paris, dia muncul dalam beberapa bagian pada novel ini. Tinggal Spring In London nih, biar genap tamat baca novel tetraloginya Ilana Tan.

Novel yang bikin sadar, bahwa segala sesuatu yang mungkin tak tergapai bisa saja tergapai, apabila kita mau berpikir secara terbuka.

Sudah di publikasi di instagram pribadi  di https://www.instagram.com/p/CMXdlEaF0ZL/?utm_source=ig_web_copy_link

Minggu, 07 Maret 2021

JALAN KAKI YANG BERBONUS RUJAK JAMBU KRISTAL

Seperti biasa rutinitas setelah mengerjakan kerjaan domestik rumah tangga yaitu jalan kaki. Tak ada bedanya dengan jalan kaki sebelum-sebelumnya, selalu random dan dadakan memilih rute jalan, baru terpikir akan kemana arah jalannya, setelah aktifkan aplikasi jalan kaki. Btw aplikasi yang kugunakan saat ini adalah strava, kenapa? rekomendasi dari grup jalan kaki dan tipe yang sudahlah kalau pas waktunya (walau kadang suka eror), mana tau kedepannya ganti lagi aplikasi yang digunakan.

doc.pribadi


Cuaca hari ini sama seperti bulan-bulan kemarin, panas sekejap demi bikin bahagia buibu yang jemur baju, lalu sisanya mendung, mari syukuri saja, yang penting masih diberi kesehatan dan imun yang bisa menyesuaikan dengan situasi pandemik.

doc.pribadi

doc.pribadi


Melewati pinggir rute kereta api menuju stasiun Cimindi, biar jalannya tak hanya sekedar dipandangi dari sudut pandangan mata ketika sedang naik KRD Bandung Raya, ternyata akupun bisa juga melalui melalui jalan kaki. Lumayan melelahkan dan waktu yang diambil jam dimana orang-orang persiapan makan siang, eh malah jalan kaki. Niat hati setelah bertemu jalan raya, mau naik angkot ajalah, karena merasa tanggung jadi lanjutkan melalui jalan raya. Ketahuilah selama melakukan rutinitas jalan kaki, mental jalan kaki diuji ketika sedang melalui jalan raya, apalagi jalannya bukan pakaian niat olahraga macam saya.

doc.pribadi


Sesampainya di depan Rumah Sakit Mitra Kasih Cimahi, eh kok menemukan sesuatu yang menarik, yupssss tukang rujak jambu kristal. 

doc.pribadi


Jadi selama bergabung di WAG Tanos, obrolan bukan sekedar jalan kaki saja, segala macam ada, ya bisa disebut grup gado-gado lah, yang sempat hits obrolannya ya rujak jambu kristal, kalau Bandung sudah banyak yang jualan, masa iya Cimahi tak ada (dirimu saja yang tak sadar mi). Belilah 1 porsi yang seharga Rp.10.000,- sesampai dirumah, g ada 5 menit langsung habis karena makan bareng dengan paksu. Lihat bumbunya, hanya bumbu bubuk putih dan bubuk cabe, diriku tak tahu jenisnya apa karena tak suka membeli, tapi banyak yang bilang bumbu atom gitulah. Jadi penasaran ingin bikin sendiri ajalah, beli jambu kristalnya dan kuyakin di pasar pasti banyak kan bumbu itu, biar kenyang. Apalagi saya dan paksu, urusan makan buah ga bisa sedikit hahahaha.

doc.pribadi


Masih tentang jalan, dengan lumayan agak lelah akhirnya bisa mendekati 9 menit lagi dua jam jalan. Wow sungguh luar biasa sekali, jalan hari ini dan mengapa nulis jadi agak malam karena tak kuat untuk tidur sore (alamat bobok dini hari lagi sih ini). Ini hanya sebuah cerita jalan kaki yang sepertinya agak sulit untuk tak diceritakan, semoga diriku selalu konsisten jalannya demi imun yang selalu terjaga dan tak merasa dosa-dosa amat kalau abis makan nakal hahahaha


doc.pribadi




Minggu, 28 Februari 2021

CUPLIKAN CERITA TENTANG NOVEL ENTROK KARYA OKKY MADASARI

 

doc.pribadi

IDENTITAS BUKU

JUDUL BUKU               : Entrok

PENULIS                      : Okky Madasari

PENERBIT                    : PT Gramedia Pustaka Utama

TAHUN TERBIT           : April, 2010

JUMLAH HALAMAN    : 288 hlm ; 20 cm

ISBN                              : 978-979-22-5589

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital

 

BLURB

Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?

 

Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.

 

Adakah yang salah jika mereka berbeda?

 

Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.

 

Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.

 

Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata. 

 

 

CELOTEHAN TENTANG NOVEL

Entrok. Secarik kain yang digunakan untuk menutup dada seorang perempuan. Di zaman sekarang ini, istilah bra atau beha lebih sering digunakan untuk menggantikan entrok. Pemilihan judul ini pun ternyata bukan hal yang sembarangan. Entrok sendiri menjadi salah satu elemen penting bagi kedua tokoh utama, yakni Marni dan Rahayu.

 

Entrok inI simbolik dari sebuah pembuka, jangan langsung berpikir bahwa buku ini kisah tentang perempuan tidak baik secara norma sosial. Buku ini tentang perjuangan dari dua tokoh utama, Marni dan anaknya Rahayu. Marni yang bermula ingin memiliki entrok, dia berjuang untuk mendapatkan entrok dengan mengumpulkan rupiah demi rupiah, mulai dari pengupas telo/singkong, jadi kuli, berdagang sampai akhirnya jadi rentenir.

 

Marni punya kepercayaan yang dibawa leluhurnya, Tuhan versi marni, Mbah Bumi Bapak Ibu. Berdoa setiap malam dibawah pohoh asem dan tak lupa bikin sesajen kala memohon sesuatu dan berterima kasih atas pengabulan doanya. Rahayu, tokoh dari masa yang sudah agak maju dan logis, tentu menentang keras bahwa kepercayaan ibunya itu salah, Rahayu hanya percaya pada Gusti Allah dan tegas menolak hal-hal yang berbau syirik.

 

Ketika Rahayu memutuskan untuk menikah dengan pria beristri dan pergi meninggalkan ibunya. Semenjak menikah hubungan anak dan ibu ini terputus. Perjalanan hidup dua wanita yang penuh perjuangan melawan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan, apakah benang merah ini akan menyatukan kembali hubungan ibu dan anak?

 

“Alam membuat teka-teki sekaligus menyediakan jawabannya. Manusai hanya mencari dan mencocokan. Yang susah dihadapi ketika teka-teki dibuat oleh manusia lain. Manusia yang punya kuasa atas manusia lainnya, manusia yang memegang senjata untuk menjaga kuasa yang dipegangnya. Teka-teki seperti itu tak pernah menyimpan jawaban. Ia hanya membawa kesusahan yang berujung pada penderitaan abadi.”

(hal.214)

 

Beberapa tema besar mewarnai novel ini, yaitu feminism, pluralisme, politik, profesi, kepercayaan serta agama. Walaupun banyak tema, namum semua menghasilkan kisah yang utuh dan mengalir.

 

Membaca novel ini, seolah diajak napak tilas dokumentar perjalanan waktu dari 1950-1990, khususnya ranah politik. Dua tokoh ini digambarkan bukan sebagai ‘hero’, seperti perempuan pada umumnya yang memiliki kebaikan dan keburukan. Saranku sebelum membaca novel ini, untuk berpikiran terbuka dan bijak dalam terhadap persoalan yang tersaji dalam novel ini.


Buku hasil baca bareng dengan dua rekanku secara tidak sengaja, yang sudah di posting di Instagram hari ini https://www.instagram.com/p/CL0R7YhFKe6/?utm_source=ig_web_copy_link

Baca juga review temanku lainnya di 

https://www.instagram.com/p/CL0RIx8gcxl/?utm_source=ig_web_copy_link

Dan 

https://www.instagram.com/p/CL0SBYfgGGd/?utm_source=ig_web_copy_link

Minggu, 21 Februari 2021

CELOTEH TENTANG NOVEL CEWEK MATRE

doc.pribadi


IDENTITAS BUKU

Judul Buku              : CEWEK MATRE

Penulis                   : Alberthiene Endah

Penerbit                  : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan ketujuh      : Oktober 2016

Jumlah Halaman      : 464 hlm

ISBN                      : 978 – 602 – 03 – 3515 – 5

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital

 

 

“Kau boleh menghitung keuntungan materi dalam cinta. Tapi itu tak akan bisa menandingi kemurniaan cinta.”

 

 

BLURB

“Mana bisa hidup tenang di Jakarta? Coba lihat, di sebelah kiri kamu cewek pake tas Prada, di kanan pake terusan Gucci. Di belakang, cewek kecentilan pake kelom Dior! Jauh di depan mata, ada yang siap melototin kamu dari ujung rambut ke ujung kaki. Lalu matanya akan mengejek baegitu tahu yang nempel di tubuh kamu Cuma keluaran Mangga Dua.”

 

Lola humas di sebuah radio. Kantor yang membuatnya panas-dingin tiap hari, karena selalu berurusan dengan jetset-jetset Jakarta yang superglamor. Ia gadis yang cantik dan seksi. Mulanya ia tidak menyadari kelebihan itu. Tapi suatu hari ia sadar penampilannya bisa dituker dengan uang.

 

Bahagiakah dia, setelah menjadi Cewek Matre?

 

CUPLIKAN CERITA

Lola adalah humas di radio City Girls FM, hampir setiap hari mengeluhkan gaji sebulannya yang berjumlah empat juta perak ternyata tidak cukup untuk hidup di Jakarta ini. Saat gajian, Lola mulai menyusun anggaran yang sudah keluar. Tentunya belum juga sebulan, kantongnya sudah mengering.

 

Lola bersahabat baik dengan Palupi, Silvia dan Renata. Tiga gadis yang memiliki nasib yang serupa dengan Lola dari segi finansial. Setiap hari pandangan mereka selalu melirik iri pada rekan kerjanya, Arientha, Linda, Bianca dan Verena, yang selalu berpenampilan sophisticated dan dibalut pakaian serta aksesoris bermerek yang sesuai trend

 

Lalu timbullah niatan mereka untuk berusaha merubah nasib mereka dengan menggebet atau minimal bisa berteman dengan cowok-cowok kaya agar bisa ketiban rejeki ditraktir barang-barang branded. Di antara mereka berempat hanya Lola yang berhasil menggebet cowok mapan karena secara fisiknya yang memang cantik.

 

Merasa sudah nyaman dengan kondisi, Lola jadi lupa diri. Bermandi uang, baju-baju mahal, tas dan sepatu branded, Lola jadi keenakan memanfaatkan kecantikan fisiknya untuk menggaet pria-pria kaya yang tergila-gila. Lalu masalah datang satu per satu dan mulai mengusik harga dirinya. Belum lagi gosip yang beredar di kantornya kalau dia menjadi simpanan om-om. Lola terusik, tapi membayangkan dirinya kembali miskin tidak meruntuhkan naluri matre dalam dirinya.

 

Sampai dia bertemu Clift. Seorang fotografer yang memotret karyawan City Girls FM saat membuat Company Profile. Lola jatuh cinta, dan cintanya terbalas. Untuk pertama kalinya Lola melihat seorang pria tanpa memikirkan kemapanan finansial pria tersebut. Lantas berhentikah Lola menjadi cewek matre dan siap meninggalkan kehidupan glamor yang sudah menjadi bagian hidupnya selama satu tahun terakhir?

 

 

CELOTEH TENTANG NOVEL

Novel ini awal terbit di tahun 2004, dan bukan nomimal kecil untuk nilai uang sejumlah empat juta rupiah di tahun itu. Dengan catatan, kita bisa mengatur pengeluaran dengan baik. Bergaya sesuai isi kantong tepatnya. Siapa yang tidak ingin merasakan kehidupan glamor? Tapi kalau harus memilih jalan seperti Lola, sayang banget. Apalagi Lola digambarkan mempunyai paras cantik yang masih bisa digunakan dalam hal lain, selain menggaet laki-laki kaya dan mapan.

 

Cerita di novel ini selain mengungkapkan gaya hidup instan yang kebanyakan dipilih di jaman sekarang, juga secara tidak langsung mengajarkan kita untuk bersyukur. Kalau merasa hidup kita serba kekurangan, jangan melihat ke atas. Tapi lihatlah ke bawah. Lihat ke orang-orang yang susah payah bekerja tapi hanya bisa dapat uang yang hanya cukup untuk makan sehari saja. Kalau mata kita hanya tertuju ke atas saja, yah pastinya kita akan menjadi Lola-Lola yang berikutnya.

 

Untuk apa memedulikan pandangan atau omongan orang-orang yang mungkin hanya setahun atau beberapa bulan sekali baru ketemu, sementara di sisi kita ada keluarga yang hangat dan sahabat yang akan membuka lebar tangannya tanpa harus melihat merek mahal dan terkenal mana yang sedang menempel di tubuh kita.

 

Novel ini membuat kita tak perlu merasa kesindir, atau digurui, tapi ambil hikmahnya saja. Secara tidak langsung, kita jadi bisa tahu mana yang bisa menjadi sumber kebahagiaannya.

 

Novel ini realistis. Mengajak kita melihat benar – benar pada apa yang terjadi dan memang terjadi di sekeliling kita. Pada akhirnya buku ini mengajak kita untuk berpikir, sebegitu jauhkah seseorang harus melangkah demi mendapatkan pengakuan dari sekelilingnya?

Minggu, 14 Februari 2021

PETA 100 TEMPAT JAJAN DAN MAKAN LEGENDARIS DI BANDUNG

Doc.Pribadi

 


Judul Buku : PETA 100 TEMPAT JAJAN DAN MAKAN LEGENDARIS DI BANDUNG

Penulis : Baddi Hidayat, Lusi Triyani, Siti Hannifah
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Jumlah Halaman : 128 halaman
Cetakan kedua, Juli 2009
Baca melalui aplikasi Gramedia Digital


Bandung tidak hanya sekedar kunjungan wisata dan belanja fashion di aneka distro dan factory outlet. Bandung juga kaya akan surga makanan, mau cari makanan apapun segala ada dan ketahuilah wisata kuliner inipun yang membuat diriku bertambah angka timbangan (halah alasan saja kau).

Kreativitas orang Bandung dalam urusan nama tentu sudah tidak asing dengan menyingkat nama-nama makanan sehingga lebih mudah diingat. Tidak hanya nama jajanan yang unik dari segi inovasi racikan dan bahan makanan, jajanan Bandung juga kaya variasi bahan. Sekalipun aneka makanan baru bermunculan seiring berjalannya waktu, tapi jajanan legendaris tetap dapat tempat dihati para peminatnya, hal ini sudah terbukti, sekalipun varian aneka makanan baru menjamur, semua lidah tetap senang dengan makanan legendaris.
Buku ini memaparkan 100 lokasi tempat makan dan jajan legendaris di Bandung, walau dalam prakata yang disampaikan penyusun, masih banyak lokasi lain yang belum tersampaikan secara tulisan. Setiap lembaran yang kubaca, bukan sekedar membaca tapi diriku seperti sedang membuat daftar, apa saja yang sudah dimakan dan dikunjungi.

Buku ini membaca kategori lokasi tempat makan menjadi lima bagian, yaitu :
1. Restoran makanan Indonesia dan Eropa
2. Makanan khas Bandung
3. Roti dan kue
4. Minuman
5. Restoran Mie Chinese Food

Daftar makanan yang pernah kukunjungi dan makan, yaitu
1. Sate ayam asli
2. Dago tea house
3. Warung nasi ampera
4. Kantin Mesjid Salman ITB
5. Colenak murdi putra
6. Gepuk Ny. Ong
7. Mi Kocok H. Amsar
8. Bakso Mandep
9. Bubur ayam Mang Oyo
10. Bubur ayam pak Amid
11. Batagor H. Isan
12. Batagor Riri
13. Kartika sari
14. Mayasari Bakery & Pasty
15. Surabi Enhaii
16. Prima rasa Bakery
17. Biskuit Tunggal
18. Sus Merdeka
19. Kopi Aroma
20. Es Cendol Elizabeth
21. Es Goyobod Kliningan
22. Mie Baso Akung

22 dari 100 lah, ternyata masih banyak, makanan legendaris yang perlu dikunjungi di lain waktu. Buku ini disusun 2008, pastinya banyak perubahan pada harga dan bisa jadi menu juga.  Mengingat situasi sekarang sedang pandemik juga, mudah-mudahan semua lokasi tempat makan yang ada dibuku ini, tetap bertahan di tengah pandemik seperi sekarang, agar nanti bisa kukunjungi.


Akan ku lampirkan, foto di daftar isi ya, sudah pernah makan dimana saja? Atau kita mau kulineran bareng? Hayuuu (dasar si tukang dahar mah hayu hayu aja si saya teh).




doc.pribadi


Tulisan ini pernah di publikasikan di Instagram pribadi dengan perubahan yang diperlukan https://www.instagram.com/p/CLCWeOkg06Y/?utm_source=ig_web_copy_link

Minggu, 07 Februari 2021

FOKUSLAH

Terkadang hidup tak perlu muluk-muluk, ingin ini dan itu, ikutan segala hal hanya sekedar ingin, lalu akhirnya tak fokus dan mengakibatkan tak berkomitmen terhadap apa yang sedang dijalani

Itupun yang amat kupikirkan saat memilih dan bergabung dengan aneka komunitas. Walau beberapa orang beranggapan bahwa komunitas itu hiburan dan eskul, maka jangan sampai menjadikan hiburan dan eskulnya menjadi beban. 

Fokuslah pada hal yang kamu sukai, seperti halnya membaca, baca bukan sekedar hobi semata, tapi saya fokuskan untuk menjadikan baca sebagai kebiasaan. 

Awal 2020, komitmen ku tak muluk-muluk, hanya ingin baca tanpa bolong di setiap minggunya, tak perlu muluk-muluk ingin ikut komunitas a, b, c blablabla. Kalau banyak akhirnya tak fokus dan terbebani dengan tantangan dan tema, lebih baik sedikit diikuti tapi fokus dan menghasilkan komitmen. 

Inilah hasil dari komitmenku, dan tahun ini semoga bisa fokus nulis 1 tulisan setiap minggunya biar ga ada bolos di 1m1c


Minggu, 31 Januari 2021

REVIEW NOVEL RUMAH LEBAH

 

doc.pribadi


IDENTITAS BUKU

Judul Buku : Rumah Lebah

Penulis : Ruwi Meita

Penerbit : Bhuana Ilmu Populer

Penyunting : Aprilia Wirahma

Desainer : Alif Mustofa

Ilustrasi Sampul : Ikbar Munandar (garisinau)

Tebal : 286 Halaman

ISBN : 978-623-216-484-0

2019

Genre : Psychology thriller

 

Siapa disini yang bacaan bukunya dominan thriller? suka/pernah baca buku thriller? Ini salah satu buku dengan genre tersebut. Kalau lihat percakapan siang, ada beberapa yang sudah baca bukunya, mau ulang lagi, disini siapa yang sudah baca buku Rumah Lebah?

 

Ada yang versi terbitan Gagas Media dan Bhuana Ilmu Populer, saya baca versi yang Bhuana Ilmu Populer dengan cover terbarunya. Kalau dibaca blurbnya pun, antara versi Gagas Media dan Bhuana Ilmu Populer sedikit berbeda, tapi isi tetap sama. Mari mulai dengan saya sampaikan blurbnya, ya.


Blurb

 

Mala, gadis kecil berusia enam tahun yang terobsesi dengan ensiklopedia. Dia hanya membaca buku ensiklopedia dan selalu mengurutkan buku satu sampai buku terakhir dari sisi kiri ke sisi kanan. Dia juga tertarik dengan beruang.

 

Di rumah, Mala hanya tinggal bersama orangtuanya, tetapi dia selalu membicarakan enam orang asing yang hidup bersama di dalam rumahnya. Dia selalu takut pada Satira, bersahabat dekat dengan Wilis, berbicara dengan Tante Ana yang suka berdandan, belajar Spanyol dengan Abuela, dan si Kembar yang hanya bisa mendengar, melihat dan mencatat.

 

Siapakah sebenarnya enam orang asing yang selalu dibicarakan Mala? Rahasia apakah yang dimiliki oleh enam orang asing tersebut?

 

Tenang, jangan berpikir ini buku horor banget, mari ikuti gambaran singkat tentang buku ini, yaaa


Coretan cerita tentang buku

 

“Jiwa kita adalah rumah tanpa jendela dan pintu, anehnya kita pasti bisa keluar untuk berlarian di padang rumput, membebaskan tubuh kita, dan menyanyikan lagu para ilalang.”

(hal.18)

 

Jika hanya membaca judulnya saja orang tidak akan tahu apa yang coba disampaikan penulis dalam novelnya Rumah Lebah Rahasia. Orang akan berfikir "untuk apa menceritakan kehidupan lebah", “Oh, buku anak tentang kehidupan lebah” atau asumsi lainnya. Penulis seolah menyajikan cerita berbeda dari buku dengan genre yang sejenis. Novel Rumah Lebah, memberikan hiburan unik yang berisi, menegangkan dan menimbulkan rasa penasaran yang segar.

 

Kisah yang disajikan mampu menembus batas nalar, tapi bukan sebuah kisah dongeng yang hanya berisi khayalan semata. Bahasa cerita di sajikan dengan baik dan mudah dimengerti. Cerita dalam buku ini, dibangun dengan mendeskripsikan alur-alur cerita dalam novel Rumah Lebah. Membuat akhir cerita yang misterius dari kisah thriller yang dikembangkannya.

 

Karakter-karakter yang digambarkan sangat hidup. Penulis mengajak kita berimajinasi mengungkap misteri-misteri yang terjadi dalam novel Rumah Lebah Rahasia. Saya menyangka novel Rumah Lebah Rahasia adalah novel terjemahan.

 

Rumah Lebah Rahasia bercerita tentang keluarga kecil yang tinggal dengan latar tempat di daerah kecil di Ponorogo. Sebuah rumah di sebuah bukit kecil menjadi saksi semua peristiwa-peristiwa misterius yang terjadi dalam keluarga tersebut. Keluarga kecil ini memang hanya terdiri dari Winaya (ayah), Nawai (ibu) dan seorang gadis kecil bernama Mala yang memiliki dunianya sendiri tapi keluarga ini ternyata di kelilingi wajah-wajah asing yang misterius.

 

Mala sang gadis kecil berteman akrab dengan wajah-wajah asing tersebut. Mereka adalah Satira, Wilis, Tante Ana, Abuela dan si Kembar yang hanya bisa mendengar, melihat dan mencatat. Wajah-wajah asing ini mengajarkan Mala banyak hal, mereka teman yang paling baik, teman yang pemalu, juga ada yang bebahaya.

 

Rumah mereka di perbukitan ternyata bertetangga dengan vila milik seorang pengusaha bernama Rayhan. Ia dikenal sebagai seseorang yang memuja kesempurnaan dan seringkali membawa perempuan yang berbeda ke vilanya. Adalah Alegra, seorang artis ibu kota yang menjadi salah satu perempuan yang berhubungan dengan Rayhan dan terpilih memerankan tokoh utama dalam novel yang ditulis Winaya.

 

Masing-masing Wajah-wajah asing ini memiliki rahasia, rahasia yang tidak boleh diketahui, rahasia-rahasia yang seharusnya tidak boleh terungkap. Tapi berbahaya jika terus tersembunyi. Nawai, Sang ibu, khawatir terhadap Mala yang berteman dengan sang wajah-wajah asing. Karena khawatir dengan Mala, Nawai mulai berusaha mengungkap misteri di balik sang wajah-wajah asing. Namun saat Nawai berusaha keras menemukannya Nawai justru jatuh sakit.

 

Peristiwa-peristiwa pun mulai terjadi dan semakin berkembang. Tidak hanya mengenai persahabatan sang wajah-wajah asing dengan Mala. Tapi juga mengenai peristiwa pembunuhan yang tiba-tiba terjadi didekat pondok rumah tinggal mereka. Yang mau tidak mau membuat keluarga kecil ini turut terseret dalam berbagai kisah misteri tersebut.

 

Ketika seekor ratu lebah menetas dia akan menjerit dengan lengkingan yang kuat. Siapapun lebah betina yang ikut menetas bersamanya menjawab lengkingan itu maka dia telah berbuat kesalahan. Sama saja dia memanggil kematiannya sendiri. Hanya boleh ada satu ekor ratu lebah dan sang ratu akan membunuhi siapa pun saingannya.

 

Jalan cerita Rumah Lebah ini awalnya memang sempat membuatku bingung (terutama penggunaan alur maju mundur di awal). Bahkan sempat mengira kalau buku ini bergenre horor dan bikin males baca pas malem-malem (asli imajinasi liar sekali kalau dibaca malam). Namun seiring berjalannya cerita dan mulai paham alurnya, ceritanya page turner banget!

 

Karakterisasi dan penggambaran latar cerita begitu kuat dan misterius, plotnya pun rapi. Walaupun sudah bisa menebak inti cerita di pertengahan buku, pelaku utamanya sendiri benar-benar tidak terduga sampai segalanya terungkap.

 

Walaupun masih ada konflik yang masih terasa menggantung dan belum benar-benar terselesaikan, sepertinya penulis ingin membiarkan pembaca untuk mengimajinasikan sendiri penyelesaiannya.

 

Secara keseluruhan, bagi pecinta buku bergenre psycho thriller, cerita Rumah Lebah ini mengasyikkan dan tidak boleh dilewatkan. Tiap lembar ceritanya bikin penasaran dan ingin cepat-cepat diselesaikan.


“Tidak ada yang pernah tahu kapan biji tanaman tumbuh karena dia selalu mengelabui. Jadi, saat mimpi buruk bercerita tentang pembunuhan yang terjadi atas dirimu, anggaplah sebagai gladi kotor kematianmu. Karena kematian memang selalu mengelabui dan datang tiba-tiba. Bersiap-siaplah selalu….”

(hal.113)


Bagi yang ingin membaca tapi belum bisa beli buku fisiknya, bisa baca di aplikasi gramedia digital. Seperti diriku yang awalnya baca di aplikasi gramedia digital, eh malah tergoda untuk beli buku fisiknya 😆😆😆

doc.pribadi


Pernah disampaikan ulasanku di OWOB Bahas buku di WAG OWOB 

sumber : https://www.instagram.com/p/CKnbvE7AYR_/?utm_source=ig_web_copy_link