Minggu, 24 Januari 2021

REVIEW NOVEL DUO DETEKTIF : PERBURUAN NAGABIRU



Judul Buku             :         DUO DETEKTIF : PERBURUAN NAGABIRU

Penulis                   :         Wiwien Winarto @wiwienwintarto

Penerbit                :         PT. Gramedia Pustaka Utama  @bukugpu 

Tahun Terbit         :         2019

ISBN Digital         :         978-602-06-3537-8

Jumlah Halaman     :         152 hlm

Baca melalui aplikasi @gramediadigital



Jalu dan Bima adalah duo detektif yang yang sudah menyelesaikan kasus sabotase lokomotif dan komplotan pencuri hewan piaraan.  

 

Pada kisah ini, Jalu dan Bima berlibur ke rumah Om Seto dan Tante Farah di Semarang. Selain liburan dan menikmati kuliner khas Semarang, mereka berkunjung ke kantor OmageDome, studio pembuat video game lokal yang terkenal.

 

Kunjungan itu membuat Jalu dan Bima, ikut Perburuan Nagabiru, dalam rangka promosi game terbaru keluaran OmegaDome. Perburuan Nagabiru adalah kompetisi perburuan harta karun yang diadakan di delapan kota besar. Setiap peserta harus menebak satu demi satu teka-teki hingga tiba di tahap akhir di kota masing-masing. Hadiah utamanya jalan-jalan ke kantor Nintendo di Kyoto, Jepang.

 

"Kamu, nggak cuman asal main apa pun yang menarik, tapi bisa membedakan mana game yang baik dan cocok buatmu dengan game yang kurang bermanfaat."
(hal 59-60)

 

Sepanjang menyelesaikan teka-teki perburuan, ada teror mengejutkan, kode yang harus dipecahkan, yang menyangkut seseorang dalam pelarian, serta kasus besar dibalik perburuan ini. Apakah Jalu dan Bima berhasil menyelesaikan kompetensi Perburuan Nagabiru?

 

Ini bukan hanya kisah misteri biasa, ada banyak pengetahuan bersifat IT, yang bisa dipahami dengan sederhana oleh anak. Dari sosok Jalu dan Bima, kita diberi pembelajaran bahwa persahabatan saling melengkapi. Jalu memecahkan kode, sementara Bima pengamatannya cermat dan terampil game ketangkasan. Jalu memiliki sifat kompetitif yang tinggi dan Bima dengan sifatnya yang kadang santai tapi serius. Beberapa kali juga ada adegan lucu dan relate dengan kehidupan sehari-hari.

 

Bacaan yang cocok untuk anak-anak yang suka misteri dengan nuansa kearifan lokal dan bagi usia seperti saya, bisa jadi bahan pembelajaran bahwa tidak semua game itu tidak baik bagi anak, asal diarahkan dengan benar.

 

Sepertinya harus baca seri lainnya nih.

 

Rating : 4,5/5

 

Review yang sudah di posting di Instagram pribadi https://www.instagram.com/p/CKQbgbBAUCi/?utm_source=ig_web_copy_link

 


Sebuah kebanggaan bagi bookstagram ketika membuat review dan respon dari penulisnya, salah satunya saat saya review ini, bukan hanya sekedar dikomen biasa tapi dapat notifikasi terhadap karya lainnya, sukses terus mas untuk karya-karya berikutnya

Minggu, 17 Januari 2021

REVIEW NOVEL PASUNG JIWA OKKY MADASARI

doc.pribadi


Judul Buku             : PASUNG JIWA 

Penulis                   : Okky Madasari 

Penerbit                : PT. Gramedia Pustaka Utama 

Cetakan kedua       : Oktober 2015 

Jumlah Halaman     : 328 hlm 

ISBN                    : 978-602-03-2220-9 

Baca melalui aplikasi @gramediadigital

 

Tokoh utama dalam novel Pasung Jiwa adalah Sasana/Sasa dan Cak Jek/Jaka Wani/Jaka Baru. Sasana digambarkan sebagai seorang berjiwa perempuan yang terkungkung dalam tubuh lelaki. Dia lahir dari keluarga berada dan terpandang yang senantiasa mempersiapkan Sasana untuk menjadi seorang yang membanggakan kedua orangtuanya.

Cak Jek digambarkan sebagai seorang lelaki yang pandai bicara dan mempengaruhi sekitarnya. Masa kecilnya tidak terlalu diceritakan, tapi secara umum diceritakan dari keluarga kelas bawah.

Mereka dipertemukan di sebuah warung kopi milik Cak Man dan di sinilah awal perjalanan mereka dalam menemukan kebebasan jiwa mereka, yaitu melalui mengamen.

Sebuah perjalanan yang tak hanya berisikan tawa, tapi juga dipenuhi luka. Dari mulai luka fisik sampai luka batin.

Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segela kekurangan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

“Tak ada jiwa yang bermasalah, yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu. Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda” (hlm 146)

Pasung Jiwa adalah novel yang ditulis oleh mbak Okky Madasari untuk menyuarakan pendapat dan harapannya pada masalah kebebasan dan kemanusiaan. Sebuah karya sastra yang tak hanya menghibur pembaca juga memberikan pesan-pesan tentang keadilan, kebebasan, dan kemanusiaan. Sebuah novel yang memberikan pemahaman untuk dapat mengenal dan mencintai diri kita sendiri, agar diri kita menjadi rumah bagi tubuh kita sendiri.

Rating : 4,5/5

 

Minggu, 10 Januari 2021

TERIMA KASIH 71 BUKU DI 2020

Aktivitas dominan yang saya lakukan selama 2020, mengingat betapa toxic baik secara mental dan situasi di masa pandemik. Membaca buku salah satu pilihan mengatasi kegundahan akan segala keterbatasan dan prokes saat ini.


Bila kegiatan membaca masih berat, maka mulailah membaca buku yang menarik. Menikmati aktivitas membaca perlu adanya teman dalam senang membaca. Terutama bila bergabung pada komunitas membaca.

@gerakan_1week1book adalah komunitas pertama yang saya ikuti. Bergabung OWOB sejak 11 februari 2018, saya merasakan bahwa membaca bukan sekedar me time semata dan kebiasaan saja. Dari membaca, bisa cerita online dalam bentuk review dan tentunya secara tidak langsung mengajak orang lain untuk membaca.




Sudah terlalu telat untuk ukuran bikin tulisan mengucapkan terima kasih di 2020, tapi mau mengucapkan terima kasih untuk diriku sendiri yang masih lumayan mau membaca buku, walau kadang ada beberapa buku yang cukup dibaca dan tak diulas.




Awal tahun 2020, saya menantang diri untuk bisa baca 50 buku selama setahun dan ternyata diakhir setelah dihitung 71 buku yang dibaca selama 2020 ini. Terima kasih buat teman-teman online yang selama 2020 ini, secara tidak langsung menebar racun buku baru untuk ditimbun yang bukannya berkurang malah makin banyak, bikin ngiler untuk ikut dalam menguji keberuntungan dalam giveaway dan terutama merasa tak sendiri lagi ketika sedang membaca buku. Mungkin nanti akan ku ceritakan, tantangan lebih detailnya apa saja yang kuikuti selama 2020, sampai bisa melebihi target.


Tahun 2021, saya menantang diri saya untuk membaca,,,,,,,,,,,,



Bismillah saja dulu, biar tak terasa tiba-tiba sudah sesuai target minimal.

Sabtu, 02 Januari 2021

CERITA DI PENGHUJUNG 2020

Minggu pertama di Januari 2021, akan sedikit bercerita tentang kumpul bersama sahabat.


doc by risa


Terdengar klise, ada anggapan, tak ada manfaatnya dan buang-buang waktu, terutama ketika usia sudah tak remaja dan berkeluarga. 

Ketika rutinitas pekerjaan terlalu membebani diri dan jenuh, maka berkumpul dengan orang-orang yang kau anggap sahabat, bikin suasana hidup jadi lebih berwarna.

Apalagi ketika salah satu sahabatmu berbahagia, melewati satu tahap kehidupan. Berada pada momen terbaik sahabatmu, adalah hal terindah, yang tak ternilai secara angka dan nominal. Misal pada momen tunangan dan ulang tahun sahabatmu.

doc by risa



Kumpul bareng sahabat walaupun berbincang tentang hal-hal yang tak penting, bukanlah sia-sia. 
Tiga orang dalam foto ini, yang dominan mewarnai hidupku selama pandemik, bahkan hal tergila yang pernah kami lakukan yaitu telepon grup sampai 5 jam, ngobrolin apa? Apa saja 😂.

doc by risa


Dari obrolan yang santai itulah keakraban sedang dibangun dan keterikatan akan semakin terjalin. Walau mungkin sekarang, akan ada hal yang diadaptasi dari segala keterbatasan.

doc by risa


Ada pula lingkar persahabatanku yang lain, yang tentunya nanti akan dijadikan cerita untuk blog berikutnya


Temukanlah segala sesuatu dalam dirimu, untuk kebahagiaan dirimu, walau pada hal sederhana.

edited by canva



Semoga tahun 2021 jauh lebih rajin dan komitmen nulis blognya, biar ga bolong-bolong setoran tulisannya. 

Sudah pernah di publikasi di https://www.instagram.com/p/CJgaXxgF2Wu/?utm_source=ig_web_copy_link , dengan perubahan yang diperlukan. 

Minggu, 27 Desember 2020

REVIEW NOVEL SETELAH KAMU PERGI

 



Judul Buku : Setelah Kamu Pergi

Penulis : Kori Rahayu
Penerbit : Loka Media
ISBN : 978-602-5509-83-4
216 halaman
Cetakan 1, September 2020
Rate : 8/10

Harsa, remaja usia 16 tahun ditemukan bunuh diri dengan menggantungkan dirinya. Harsa yang kesehariannya penuh canda dan tawa bagi sekelilingnya, nampak tak menjamin memiliki masalah yang dipendam oleh dirinya.

Ini bukan sekedar kisah milik Harsa seorang. Ada Mita, kakak Harsa, cantik dan pemalu bahkan cenderung anti sosial, bahkan banyak yang tak tahu, bahwa ia menderita kecemasan sosial.

Anjasmara, ibu Harsa, seorang single mother yang berjuang menafkahi keluarga, setelah kematian suaminya, dengan menjadi guru lukis dan memiliki usaha dibidang alat lukis.

Bella, sahabat Harsa yang pintar, diam-diam mencintai Harsa, selalu merasa minder dengan dirinya.

Kepergian Harsa membuat kondisi bagaikan 180° bagi kehidupan mereka. Memberikan kesedihan yang dalam dan penuh tanya teramat besar. Pertanyaan, kenapa Harsa mengakhiri hidupnya, selalu memenuhi otak dan mengganggu kehidupan orang yang ditinggalkan. Seseorang yang terlihat penuh canda dan tawa, belum tentu memiliki kebahagiaan.

"Dirimu memang penuh dengan cela, tapi bukan berarti kamu tidak berhak dicintai."
(Hal.193)

Ada beberapa selipan ilmu psikologi yang kita dapatkan secara tak langsung. Seperti mengenal 4 jenis bunuh diri yang terdiri dari : bunuh diri egoistik, altruistik, anomik dan fatalik. Bahkan dipaparkan bahwa bunuh diri terjadi menurut Durkheim, karena kegagalan seseorang mengintegrasikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Lumayan terkecoh dengan judul bukunya, yang kupikir romance, ternyata novel psikologi. Pembaca diajak untuk mendalami setiap karakter dan tokoh pada novel ini, dengan sudut pandang pada masing-masing tokoh.

Senang akhirnya buku hasil menang GA dari @loka_media , tamat juga 😍

Sudah pernah di publikasi di Instagram pribadi dengan segala perubahan yang diperlukan https://www.instagram.com/p/CJGikBRg-wf/?utm_source=ig_web_copy_link

Minggu, 13 Desember 2020

SIBUK ITU RELATIF DAN KEBANYAKAN ESKUL

 Sibuk itu relatif

Masalahnya mau menyempatkan atau tidak


Mungkin sudah sering mendengar istilah itu ya, tapi tak bisa dipungkiri ada kalanya saat kita berhadapan dengan orang yang kita butuhkan, untuk menyempatkan waktunya, dengan lugas dan lancarnya bisa berkata seperti itu.


Ketika situasinya berbalik, bisa jadi kita akan mendapatkan ucapan yang sama seperti itu.


Sama halnya seperti diriku, yang semenjak bergabung ke 1M1C, selalu saja ada masa bolosnya. Entah hidupnya terlalu sibuk atau mager nulis, tiba-tiba sudah senin pagi saja. Tapi hingga sekarang, Alhamdulillah belum pernah daftar ulang member 1M1C, bisa menyempatkan cuma memang suka rada konslet aja.


Saking sibuknya, nulis dan setor mepet waktu sekali.


Mau sedikit berbagi kesibukan baru seminggu ini aja deh, jadi saya punya satu akun IG, awal bikin untuk akun dagang, karena sedang tak aktif dagang maka ikutlah salah satu tantangan online dari Tanos, iya itu tantangan naon sih, sibuk dengan aktivitas harian, masih aja bisa bikin beginian, hidupnya banyak eskul sekali memang. 


Berkat tantangan online ini, btw ini link-nya, yang ingin kepo https://www.instagram.com/tanos.challenge/?hl=id feed instagram nampak hidup, boleh lah yang mau kepo https://www.instagram.com/tokimi_07/ , siapa tau jadi nambah lagi follower-nya hahahhaa


Dikasih spoiler dikit deh instagramnya biar mau mampir-mampir gituhhh




sumber : https://www.instagram.com/tokimi_07/


Bisa ya menyempatkan untuk ribet sama perintil, tapi tetap aja suka bolos nulis, padahal sudah mau akhir tahun hahahahhahahahaha








Minggu, 22 November 2020

MATA DAN RAHASIA PULAU GAPI

Photo edit by PhotoGrid


Judul Buku : MATA DAN RAHASIA PULAU GAPI 

Penulis : Okky Madasari 

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama 

256 hlm ; 20 cm 

Tahun Terbit : 2018 

ISBN Digital 9786020619392 

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital


Petualangan Mata di Tanah Melus berlanjut ke Pulau Gapi. Kali ini Mata memiliki misi menyelamatkan pusaka Pulau Gapi. Ditemani Molu, seekor kucing ajaib, dan Gama, anjing peliharaan Sultan yang bereinkarnasi menjadi seekor laba-laba, Mata memulai petualangannya.


Cerita diawali dengan Mata, seorang anak kecil yang gagal masuk SMP favorit di ibu kota. Ibunya menyalahkan diri sendiri, hingga ada pemikiran dari Ibu Mata, mencetuskan ide menjadi pengajar Mata anaknya sendiri. Kesempatan itu ia praktikan saat di Pulau Gapi. Pulau ini terletak di Maluku Utara, tepatnya di Ternate. Keindahan yang saat ini bisa dinikmati semua orang, dengan memandang uang seribu rupiah.

Ayah Mata dipindah tugasnya untuk mengemban proyek baru di Pulau Gapi, yakni membangun hotel.

Ada sejarah yang terselip di dalam novel ini. Kedatangan Portugis, Spanyol, dan Belanda hingga secara tak langsung menambah pengetahuan bagi anak-anak.

“Sultan yang baru tak tahu bahwa mereka semua sama saja. Sama-sama ingin mencari untung sebanyak-banyaknya, mencari rempah-rempah dengan harga semurah-murahnya untuk dijual kembali di negerinya dengan harga mahal. Dan untuk itu semua, senjata pun menjadi alat utama.”

Buku ini kembali mengajak saya bertualang di salah satu bagian dari Nusantara. Buku kedua serial Mata, masih menekankan tentang persahabatan, namun kali ini bentuk persahabatan yang ada agak berbeda dengan buku pertama. Seperti tersirat, seolah kita mendapat pesan untuk saling menghormati sesama makhluk hidup.

Kritik sosial mengenai perubahan lingkungan juga disampaikan dalam buku ini disampaikan melalui rencana pembangunan pusat perbelanjaan dan hotel yang harus mengorbankan peninggalan bersejarah.

Photo edit by PhotoGrid



*Niat hati mau foto mewakili Molu, kucing hitam gendut dan lucu, apa daya yang ada kucing hitam kelunturan jadi abu-abu mana ekspresi tak ramah sekali.




Minggu, 15 November 2020

ULASAN BUKU RE: DAN PEREMPUAN KARYA MAMAN SUHERMAN

Edit by photogrid

 

Bermula dari tugas akhir skripsi, pertemuan dengan Re' si pelacur lesbian mengubah total sudut pandang Herman tentang sisi gelap kehidupan malam yang sering dikatakan petaka bagi sebagian besar orang. Awalnya Herman, Mahasiswa Kriminologi itu menganggap Re semata-mata objek penelitian saja, namun yang terjadi benar-benar di luar haluan.


Seorang wanita biasa dengan latar belakang yang kelam, dan terseret ke dunia pelacuran dan sekarang hidup sebagai kaki tangan Mami Lani, orang yang telah mengubah hidup Re:. Tentu Re: tidak sendiri. Ia bersama teman-temannya melakukan pekerjaan, memuaskan para pelanggan mereka. Walau kematian mengancam hidup mereka. Herman kemudian masuk lebih dalam dan mengenal baik kehidupan Re, keras kehidupan yang ia kenal ternyata tak mengalahkan keras kehidupan Re, Herman terjerembab pada air mata, cinta dan sayang terhadap pelacur lesbian, Re;


"...Man,
Kalau mau ikut surgakan aku,
tuntaskan skripsimu.
Tulis apa adanya, kabarkan tentangku
dan tentang duniaku.."
-hal.153

Buku Re bagaikan sebuah tamparan keras tentang paradigma kerasnya kehidupan manusia, walaupun buku ini adalah kisah prostitusi tahun 80-an, namun masalah dan gambaran-gambaran yang ditampakkan begitu melekat dengan keruwetan hidup masa sekarang, hingga kesan tahun 80-an terasa dekat dengan saya, mungkin Maman Suherman benar-benar ahli dalam meletakkan Fiksi berasa Realiti, ataukah memang sebenarnya dari tahun 80-an sampai sekarang banyak Re yang lain, tetap banyak berada di sekitar kita, yang memohon untuk lepas dan merdeka dari sisi gelap dunia kupu-kupu malam. Jadi teringat lagu Titiek Puspa yang judulnya Kupu-kupu malam, bisa jadi pengiring selama membaca buku ini. Sempat menyesali, kenapa baru baca buku ini sekarang, huhuhu.


RE : // Maman Suherman // POP // Cetakan Ketiga, April 2016 // vi + 160 hlm;13,5 x 20 cm // 978-602-6208-31-6 // Baca melalui aplikasi gramedia digital


Edit by photogrid


Buku ini merupakan kelanjutan dari buku RE: , Jika buku pertama 'Re:' menjelaskan tentang Re: dan kehidupannya, maka 'PeREmpuan' menjelaskan kehidupan setelah Re: meninggal. Setelah seperempat abad lebih setelah kematian Re:. Melur, putri kandung Re: mencari jati diri siapa dirinya sebenarnya. Seorang wanita yang telah bergelar PhD bidang ekonomi.

Secara keseluruhan, isi buku menceritakan tentang kegundahan Melur tentang ketidakadilan hukum terhadap kasus pembunuhan ibunya. Memiliki twist yang cukup menyayat hati, walau tidak semua pembaca suka akan hal itu. Masih menggunakan POV Herman. Namun, gaya penceritaannya begitu indah hingga saya larut dalam kisahnya.

Selain itu, ketika membaca buku ini, kita akan menemukan sajak-sajak penuh rasa, teori kriminologi yang dijabarkan dengan ringan dan sederhana. Tanpa perlu menghentikan baca buku dengan cari tahu, apa maksud dari istilah tersebut, tapi kita mengikuti alur dari ceritanya. Bukan hanya pesan kehidupan, pesan agama pun ada jika kita benar-benar membaca dengan hati. Kita mungkin tanpa sengaja pernah menilai orang dari penampilan luarnya, dari pekerjaannya, dari apa yang bisa kita lihat. Pesan pada buku ini, amat sampai ke pembacanya.

“Tahukah kamu apa yang lebih menyakitkan daripada kematian? Memaafkan! Karena dengan memaafkan kau akan memendam rasa sakit dalam hatimu.”
(hlm.82)

peREmpuan // @kangmaman1965 // @pop_icecube // Cetakan Pertama, Mei 2016 // vi + 189 hlm, 13,5 x 20 cm // ISBN : 978-602-6208-32-3 // baca melalui @gramediadigital



Minggu, 01 November 2020

LIKA LIKU TRADISI PADA BUKU KETIKA SAATNYA KARYA DARMAWATI MAJID

 

Edit by Photogrid


Judul Buku : KETIKA SAATNYA 

Penulis : Darmawati Majid 

Penerbit : Kepustakan Populer Gramedia 

vi + 143 pages ; 11,5 cm x 17,5 cm 

978-602-481-139-6

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital


“Cinta selalu kalah saat berhadapan dengan takdir dan adat.”

(hal.44)

 

Ketigabelas kisah dalam buku ini adalah kumpulan cerita perempuan menghadapi tradisi dan keluarga dengan latar tempat Bugis Makassar dan kental dengan budaya patriarki. Perempuan dianggap berada dalam lapisan sosial kedua. Setinggi apapun pendidikan, perempuan harus kembali ke dapur. Lalu untuk menjaga siri', perempuan ini dihargai sesuai statusnya. Ketigabelas cerita itu adalah :

1. Tentang Hal Yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Suatu Hari Sekitar Pukul 10 Pagi

2. Perempuan yang Terkunci Pintu Jodohnya

3. Ningai

4. Kiriman dari Inggris

5. Losari

6. Passampo Siri'

7. Nasu Likku

8. Kak Sulaeman

9. Pelahap Telinga

10. Uang Panaik

11. Ketika Saatnya

12. Buat Apa Sekolah?

13. Puang Biccu


Ketigabelas judul diatas,  diangkat dari tema yang beragam dari masalah perselingkuhan, uang panaik (uang yang diminta keluarga wanita kepada calon mempelai pria untuk biaya pernikahan dll), jodoh yang tak kunjung datang, peran perempuan dalam rumah tangga, kerinduan seorang adik kepada kakak laki-lakinya yang telah meninggal, pendidikan bagi perempuan hingga masalah mistis dalam cerpen terakhir berjudul Puang Biccu.


Ada 3 cerita yang membuat saya ikut larut dalam perasaan yaitu Losari, Pasampo Siri dan Uang Panaik. Bagaimana tidak seorang pria telah beniat baik untuk menikahi seorang perempuan namun niatan tersebut tak berujung pada kenyataan. Bukan sosok pria yang ingkar janji namun lagi dan lagi persoalan tradisi dan keluarga. Menjadi bahan pemikiran yang akan menikah orang tua atau anaknya? Mengapa harus dipersulit sedangkan perempuan menginginkan hal sederhana.


Sosok orang tua seperti Petta Tiro pada judul "Buat Apa Sekolah?", tentu amat dirindukan oleh sebagian besar anak, tokoh seorang bapak yang memiliki pemikiran bahwa sekolah adalah tabungan jangka Panjang. Terbukti Sidar mampu mengangkat derajat keluarganya dan memajukan perekonomian daerahnya.


Buku banyak menyisipan kearifan lokal Sulawesi Selatan, teutama Bugis Makasar, yang belum pernah digali secara mendalam  dan diksi penulis memiliki permainan logika bagi yang menyukai isu-isu sosial. Kisah pada buku ini sedikit menguras emosi.


Berkenalan dengan kumcer ini, melalui program baca bareng di Komunitas Gerakan One Week One Book. Tidak menyangka akan sesuka ini dan merasa tertampar terhadap ragam tradisi dan budaya yang ada di Indonesia, ternyata banyak yang belum kuketahui.



Tulisan ini sudah pernah di upload di Instagram dengan penambahan yang dibutuhkan :  https://www.instagram.com/p/CG-ZLGcgaJm/?utm_source=ig_web_copy_link

 


Minggu, 25 Oktober 2020

JEJAK NASIONALISME SUMEDANG

doc. pribadi


Sebagai wanita yang akhirnya menikahi lelaki asli Sumedang, memang ada baiknya untuk mengetahui beberapa fakta unik tentang Sumedang, tidak hanya melalui tradisi lisan yang secara tidak langsung suka diceritakan. Sehingga perlu didukung dengan pengetahuan berdasarkan data dokumen tertulis yang bisa dipertanggungjawabkan secara kebenaran. Dan sebagai bentuk rasa kangen karena selama pandemik, masih banyak berpikir untuk bepergian sebelum situasi membaik (walaupun ah ya sudahlah). Biar berasa sedang di Sumedang padahal lagi #dirumahaja , maka perlulah didukung dengan foto rumah Sumedang saja biar berasa ada disana.

Penjelasan foto sampul pada buku ini adalah Patung Kornel (kanan) dan Daendels di Jalan Raya Bandung – Cirebon atau lebih dikenal Cadas Pangeran di Desa Cijeruk , Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Patung tersebut adalah simbol perlawanan Kanjeng Pangeran Koesoemahdinata IX (Pangeran Kornel), Bupati Sumedang 1791-1828 terhadap Herman Wilem Daendles. Pangeran Kornel bersalaman dengan tangan kiri. 


Walaupun kisah Cadas Pangeran sebagai peristiwa sejarah masih dipertanyakan oleh sejumlah pihak. Kisah ini dianggap mitos yang berfungsi terbatas sebagai identitas lokal yang tumbuh dan beredar di masyarakat tertentu. 


Membaca buku ini aku menemukan beberapa fakta menarik tentang Sumedang:

1. Bupati Pangeran Kornel menjadi symbol perlawanan ketika menyambut Daendels, penguasa kolonial, sambil  menghunus keris

2. Cut Nyak Dien pernah diasingkan ke Sumedang. Di Sumedang, Cut Nyak Dien yang sudah kehilangan vitalitas memang hanya mengajar mengaji ke masyarakat sekitar.Walau kehadirannya tak menjadikan permasalahan sosial perempuan dapat terselesaikan.

3. Kata Sumedang berasal dari kata “Insun Madangan” yang berubah pengucapannya menjadi “Sun Madang”. Adapun secara etimologi “Insun Medal” berasal dari kata “Su” dan “Medang” (“su” artinya bagus ; “medang” adalah sejenis kayu jati, yaitu huru, yang banyak tumbuh di wilayah Sumedang dulu)

4. Kini Wilayah Sumedang berkembang menjadi 26 Kecamatan dan 269 desa.

5. Orang Sumedang lebih sabar, tetapi perlu pemimpin. Kalau tidak ada pemimpin, tidak aka nada jalan atau perubahan. Karena pada dasarnya orang Sumedang punya kultur manut kepada pemimpinnya.

6. Terdapat sisa pertahanan Belanda selama Perang Dunia I berupa benteng dan instalasi militer di Gunung Kerinci

7. Bila ingin kenal lebih tentang kebudayaan masyarakat Sumedang yang terdapat di Museum Prabu Geusan Ulun. (Setelah pandemik berlalu ya manteman)

Masih banyak yang perlu digali dan jadi motivasi buat diriku untuk lebih mencintai negara kita tercinta dengan segala kebudayaan yang khas setiap daerahnya.


Edit by photogrid


Judul Buku : JEJAK NASIONALISME

SUMEDANG : PERJUANGAN MELAWAN KOLONIAL

Tim Penyusun : Litbang Kompas

2019

vi + 85 (91 hlm), 16 x 24 cm

ISBN 978-602-412-786-2

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital


Minggu, 11 Oktober 2020

MELALUI SEPTEMBER DENGAN SANTAI

Jangan kesal terlebih dahulu ketika membaca judulnya, karena ini memang ingin menceritakan bulan kemarin dengan santai. Jadi bukan sekedar September ceria saja tapi dengan santai, salah satunya setelah diadposi untuk gabung dalam tim patungan Gramedia Digital, semakin berwarna membaca bukunya. Tak perlu beli buku fisik bila ternyata secara ekonomi masih lebih penting bisa makan 🤣. Paling tidak baca buku digital dengan cara legal dulu lah, sebagai bentuk menghargai penulisnya. Hal ini berimbas kepada jumlah buku yang dibaca selama bulan September. Masih sama dengan bulan Agustus sih, dengan jumlah 10 buku tapi tidak menurunlah nanti jadi bukan September santai lagi. 

Photo edit by Canva


Itulah daftar bacaan buku selama September yang dibaca, bacaan yang santai lah ya karena beres dibaca dan di review di instagram tercintah, boleh di cek ko https://www.instagram.com/simiati_nw/ (walau belum semua di share di goodread karena lupa sama pasword ah elahhh tapi ya sudahlah santai saja nanti bikin baru sajaaaaa). Definisi santai yang didapat selain bisa baca buku dengan santai ya tidak terlihat sibuk sama orang kebanyakan. Lebih baik terlihat santai bukan di mata orang lain daripada terlihat sibuk, gw mah gitu orangnya 🤣🤣🤣🤣🤣. Terlihat santai dengan situasi orang-orang yang sepertinya punya dunia sendiri padahal membuat tak nyaman sekitarnya. Kalau yang memiliki dunia sendirinya saja bisa santai kenapa kita tidak, ya paling bincang-bincang santai di belakangnya saja (ghibah itu namanya rosalinda).


Ga paham ini tulisan tentang apa, hanya berusaha menutup tahun dengan rajin setor tulisan gitu dan mudah-mudahan komitmen walau tak nyambung juga. Kalau ga komitmen ya sudahlah santai saja, rugi ada pada diri sendiri (loh ini berarti tak santai). 

Minggu, 04 Oktober 2020

REVIEW NOVEL KAU, AKU DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH

 

sumber : google


Judul Buku : Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah

Penulis : Tere Liye

Cetakan kedua puluh  : April 2018

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

521 hlm ; 20 cm

ISBN DIGITAL : 9786020355771

Baca melalui aplikasi Gramdia Digital

 

Disini adakah yang sudah baca karya dari Tere Liye? Atau seliweran lihat-lihat karya beliau?

Bila sudah membaca novel beliau, bisa jadi semua mengetahui beraneka ragam genre yang beliau tulis dan gaya penulisan beliau, novel yang akan saya sampaikan yang bisa disebut salah satu genre romance.Bila diurutkan, ini adalah novel keenam belas dari 42 karya yang sudah diterbitkan (belum dihitung serial anak mamak dan sang penindai yang berganti judul buku). *bila salah hitung mohon dikoreksi bersama ya, mungkin diriku siwerrr. Sebelum terlalu panjang prolognya akan saya sampaikan Blurbnya terlebih dahulu ya.

 

BLURB

Ada tujuh miliar penduduk bumi saat ini. Jika separuh saja dari mereka pernah jatuh cinta, maka setidaknya akan ada satu miliar lebih cerita cinta. Akan ada setidaknya 5 kali dalam setiap detik, 300 kali dalam semenit, 18.000 kali dalam setiap jam, dan nyaris setengah juta sehari-semalam, seseorang entah di belahan dunia mana, berbinar, harap-harap cemas, gemetar, malu-malu menyatakan perasaanya.

 

Apakah Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah ini sama spesialnya dengan miliaran cerita cinta lain? Sama istimewanya dengan kisah cinta kita? Ah, kita tidak memerlukan sinopsis untuk memulai membaca cerita ini. Juga tidak memerlukan komentar dari orang-orang terkenal. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Nah, setelah tiba di halaman terakhir, sampaikan, sampaikan ke mana-mana seberapa spesial kisah cinta ini. Ceritakan kepada mereka.

 

Kalau baca dari Blurbnya sudah ditebak ya kental sekali dengan kisah cinta, sudah baca novel ini? Sekedar intermezzo, cover dari novel ini sudah ada pergantian cover tapi isi tetap sama. Ini runtutan pergantian cover dari novelnya.

 

Kisah tentang borno, bujang dengan hati lurus sepanjang tepian Kapuas.Anak yang paling dibanggakan, bukan karena bapaknya meninggal karena mendonorkan jantungnya tapi karena mewarisi semua kebaikan itu. Setelah pencarian mencari kerja akhirnya berlabuh pada pekerjaan sebagai pengemudi sepit yang merupakan pekerjaan turun temurun dari kakek, ayah yang sebenernya ayahnya mewasiatkan untuk tidak menjadi pengemudi sepit.


Kebiasaan para penumpang membayar ongkos sepit dengan menyimpan yang di dasar sepit. Sampai akhirnya ia menemukan amplop merah yang ia kira terjatuh milik penumpang. Dari sinilah cerita cinta borno dimulai dengan sang gadis sendu menawan mei. Borno ketemu cewek yang dia sebut "sendu menawan" berwal dari naik sepit nomor antrian 13 hingga ia berani menanyakan namanya. nama cewek tersebut "Mei" ,kisah cinta Borno dan Mei pun dimulai. Awal Mei menaiki sepit Borno ia hanya meninggalkan angpau merah. semenjak itu Mei sering naik sepit sampai Borno ingin mengajari Mei mengemudikan sepit, namun tugas mengajar mei di pontianak telah berakhir sehingga ia kembali ke Surabaya. Borno pun mendapatkan kesempatan pergi ke Surabaya bersama Pak tua untuk pengobatan Pak tua. tak disangka mereka bertemu di rumah sakit. Namun ketika Borno mengantarkan mei pulang ketika di Surabaya, ayah mei menampakan sikap tidak suka terhadap Borno. Borno pun semakin Bimbang sampai di Pontianak. Lalu bagaimana akhir dari kisah cinta mereka dengan dibayangi masa lalu yang menimbulkan perasaaan bersalah seumur hidup?


Cerita dengan latar belakang kota pontianak dan Surabaya seolah kita berada disana karena diceritakan secara detail sudut kotanya. Berbagai macam ras terwakili oleh tokoh-tokoh dalam cerita. Bukan hanya Mei yang keturunan Chinese dan Borno yang asli Pontianak, tetapi nilai-nilai kekerabatannya seolah sengaja dijalin dengan rapi sehingga tak ada istilah tetangga atau saudara jauh semuanya adalah satu rumpun. Satu keluarga. Masing-masing tak merasa sebagai salah satu keturunan tertentu semisal tokoh pak Tua yang menceritakan, “siapa di sini yang berani bilang Koh Acong bukan penduduk asli pontianak?” (hal 195)


Kisah yang dibayangi akan beban masa lalu yang menjadi misteri sehingga novel dengan halaman 500an tak terasa bagaikan membaca novel tipis. Penyajian sampul  pertama dengan lukisan gadis berwajah oriental dan berpayung dengan latar belakang perahu-perahu kayu senja (malam hari?) sangat cukup mendukung isi cerita di dalamnya. Pemilihan warna latar yang sendu, menegaskan bahwa  novel ini tak sekedar bagus untuk dilirik, bergantinya cover mungkin ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan penulis agar menyesuaikan dengan isi karyanya. Suka cover yang mana? Kalau saya pribadi masih suka dengan cover pertamanya.

 

Sumber foto : Google
Photo edit by : PhotoGrid

Dibalik kelebihan pasti ada sesuatu yang bikin mengganjal dari suatu buku, diantaranya: 
1. Tebal halamannya itu buat minder
2. Ini kisah yang Open Ending 🤣🤣🤣🤣 gemes pokoknya
3. Sifatnya masih hiburan tak memberi tantangan pemikiran kehidupan (buat yang suka klimaks banget ya)
4. Dari keseluruhan cerita yang bersifat ringan seolah-olah hanya memberi keasyikan, hiburan, tidak memberi tantangan pemikiran kehidupan.
5. Untuk yang menyukai sastra pasti terkesan pasif.
6. Sosok Pa tua terlalu misterius seolah-olah bapak peri begitulah

"Cinta sejati selalu menemukan jalan, Borno. Ada sama kebetulan, nasib, takdir atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas serta berbagai perangai norak lainnya. Tidak usahlah kau gulana, wajah kusut. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya ..." 
(hlm. 194)


Minggu, 20 September 2020

BELAJAR PEDULI DARI SOSOK HEIDI

doc.pribadi


Judul Buku : HEIDI

Penulis : Johanna Spyri

Cetakan pertama, Januari 2010

Penerjemah : Leo Sabath

Penerbit : PT. Bentang Pustaka

ISBN : 978-979-1227-89-6

338 hlm



Bagi Paman Alm, Peter dan Nenek, kehadiran Heidi adalah keajaiban yang melengkapi warna hidup mereka. Kehadiran Heidi mencairkan kebekuan yang ada di Pegunungan Alpen. Bagaimana tidak, Paman Alm sendiri dikenal tidak punya perasaan. Lebih memilih menyendiri di atas gunung, bahkan Paman Alm pernah berkata bahwa ia sudah memusuhi Tuhan, sehingga ia tak pernah lagi kelihatan datang ke gereja.


Heidi sangat menikmati rumah baru dengan segala keindahan alamnya bagaikan lukisan pemandangan serta roti lezat dengan irisan daging dan keju yang dibuat sendiri dari susu kambing.


Namun, situasi seolah berputar balik, Heidi dipaksa untuk menjadi teman seorang gadis kecil bernama Klara di Frankfurt, Jerman oleh bibinya. Kehidupan Heidi pun berubah total, dari yang asalnya terbiasa dengan padang rumput kini harus dibiasakan di dalam rumah besar dengan gedung-gedung tingggi tanpa warna hijau menghampar.


Sanggupkah ia bertahan di Frankfurt? Apakah ia akan kembali pada Paman Alm dan menikmati kembali keindahan alam Dorfli?


"Tidakkah engkau mengerti bahwa ditempat ini pun kesedihan bisa menyelubungi mata kita dengan bayang-bayangnya sehingga orang tidak bisa benar-benar menikmati keindahan ini, dan hal itu membuatnya semakin sedih..."

(Hlm.229)


Cerita yang terkenal bahkan diterjemahkan ke berbagai bahasa dari akhir abad 19. Zaman kecil sempat membaca versi cerita bersambungnya di majalah bobo, beli dari bundelan majalah (mungkin sekarang hal seperti itu pasti langka). Setelah cari-cari ternyata ada versi film dan kartunnya, belum sempat nonton tapi sudah nonton sekilas. Membaca kisah ini telah mengajarkan tentang kepedulian dan kerja keras. Kepedulian dengan orang lain dan kerja keras untuk tidak mudah menyerah dalam belajar. Sedikit terharu dengan sikap Heidi yang peduli terhadap orang lain, bahkan disaat ditanya hadiah, ia meminta hadiah yang sifatnya untuk orang lain.


doc. pribadi