Senin, 04 Mei 2020

BUKU BACAAN SELAMA DIAM DI RUMAH

Sudah hampir dua bulan di dalam rumah yang apabila tanpa dibarengi dengan suatu aktivitas bukan saja berakibat pada tingkat kebosanan tapi juga stress hingga mengakibatkan imun drop. Selain mempersiapkan kebutuhan makanan yang merupakan pokok saat ini kita juga perlu mempersiapkan kebutuhan untuk menghibur diri kamu selama berdiam diri di rumah.

Salah satu dari sekian banyak kegiatan asik yang bisa dilakukan di rumah yaitu membaca buku. Membaca buku bisa menjadi pilihan yang menyenangkan juga, bisa membuat membunuh waktu sehingga merasakan cepatnya waktu berlalu, tidak membutuhkan banyak energi, ilmu baru dan banyak lagi yang bisa dirasakan.

Membaca buku tidak mesti baru bisa jadi banyak timbunan buku yang belum selesai kita baca atau semacam membaca kembali koleksi buku yang dimiliki agar tidak sekedar tumpukan, pajangan dan tempat dari debu-debu manja. Kalau bosan dengan koleksi yang ada bisa juga membaca dari aplikasi digital, sekedar info saya punya dua referensi dua aplikasi digital yang sering saya gunakan yaitu IPUSNAS DAN IJAK

Banyak juga aplikasi perpustakaan dan digital buku lainnya, ingat ya sebisa mungkin bacalah dari yang legal bukan pdf-pdf yang bertebaran, agar kita menghargai proses penulis buku hingga menghasilkan karya yang tentu tidak semudah dari hasil download yang ilegal. 

Selama masa diam dirumah inilah buku-buku bacaan yang sudah saya baca dan memang pasti posting di feed instagram karena masuk dalam komunitas online gerakan one week one book agar memotivitasi komitmen membacanya dan punya teman dengan frekuensi yang sama.
doc pribadi hasil sc dari instagram


yang mau selancar dan berkenalan aktivitasku di sosmed boleh lah di cek ricek

Membaca bukanlah suatu aktivitas yang berat, apabila merasa bahan bacaan terlalu berat maka cobalah membaca bacaan yang ringan terlebih dahulu agar membaca bisa dijadikan sebagai gaya hidup.

Rabu, 29 April 2020

HAL PERTAMA YANG AKAN DILAKUKAN


doc pribadi

Setelah masa pandemik ini berlalu dan bumi dinyatakan sehat untuk melakukan segala aktivitas tanpa terbatas dan proteksi diri yaitu melangkah keluar gerbang rumah ini dengan keluar tanpa masker, tidak repot membawa segala proteksi diri dan ketika kembali setelah beraktivitas dari luar bisa leha-leha ga buru-buru mandi keramas dan segera mencuci bersih pakaian yang digunakan. Tentunya ingin mengunjungi orang tua di Bogor dan Sumedang selama 6 minggu dirumah benar terasa makna keluarga yang tak didapat dari yang lain.

Ingin nongkrong sekejap dengan berbagai relasi, di masa pandemik ini amat terlihat siapa yang benar-benar sahabat dan hanya teman biasa saja. Berandai-andai dulu boleh kan agar bisa membahagian hati ini yang mengejar 6 tulisan dalam satu hari akibat terlalu santuy terhadap kewajiban yang harus menulis satu hari satu tulisan hahahahahaha

WOLES TERHADAP SEGALA PEMBERITAAN



Begitu banyak berita dan kabar tentang Covid-19 sudah pasti kita dapatkan di setiap sosial media, media massa sampai jadi obrolan ketika belanja ke warung sayur (ibu-ibu banget ya ampun). Pada dasarnya sumbernya fakta yang akhirnya terlalu banyak bumbu opini yang secara pesan berantai dengan tambahan sudut pandang penerima sehingga terkadang akhirnya menjadi sebuah hoax, apalagi sudah dibuat cocokologi dengan hal yang bersifat politik duhhhhh. Bad News is Good News konon kabarnya yang sering kudengar ketika ada acara debat-debat di TV.

Ketika diawal masa-masa dihimbau untuk diam dirumah segala macam informasi masuk baik data jumlah, pencegahan-pencegahan, kondisi setiap daerah dan hal lainnya yang belum tentu kebenerannya dengan dalih apabila di bantah bahwa berita itu hoax dengan pendapat "buat pengingat aja" ingin sekali bilang sekarang negara kita sudah ada UU ITE tapi ya hanya bisa berkata dalam hati saja mengingat grup dan yang menyebarkannya ah sudahlah. 

Lalu bagaimana menyikapi kondisi seperti itu "WOLES" dan berusaha cari kebahagiaan atas segala hirup piruk dan hingar bingar pemberitaan, bukan menjadi seolah antipati dan jadi gerakan anti nonton TV, blokir segala akses pemberitaan. Ya tonton aja sih biar jadi ilmu filter juga terhadap informasi, kalau ga suka pindah atau matikan. Kalau ada informasi yang kamu gatal sekali ingin berkata kasar dan bilang itu tidak benar, ketahuilah susah bilang ga bener ke orang tua dan kurang waras jadi sebagai orang yang berusaha untuk waras ngalah aja biar imun terjaga dan hati bahagia agar baik selama masa pandemik ini. 

Bahagia adalah kunci dari segala kunci 

MANFAAT BERKEBUN DI RUMAH SELAMA COVID-19


Doc pribadi dengan hasil edit menggunakan aplikasi PhotoGrid

Berkebun di rumah menjadi salah satu kegiatan favorit refreshing suami di kala penat pekerjaannya. Mungkin latar belakang masa kecilnya bertani sehingga sekalipun sekarang sudah tidak bertani dan menjadi guru tentulah tidak kacang lupa kulit bahkan masa-masa kuliahpun suka memanfaatkan lahan di sekretariat pramuka. Ketika menikah melihat area rumah banyak yang bisa dijadikan sebagai sarana untuk melampiaskan kesukaan berkebun maka beliau memanfaatkan lantai atas (dahulunya ketika rumah masih ramai itu dijadikan tempat jemuran dan main rumah-rumahan sama sepupu), samping rumah, depan rumah dan garasi untuk bercocok tanam.
Bahkan saya yang memang tinggal dan tahu seluk beluk rumah untuk berkebun tidak pernah ada dalam pikiran, sekalipun dahulu mbah memang suka menanam aneka macam pohon yang kita terkadang suka menikmati buah dari hasil pohon-pohon tersebut. Dengan tangan yang memang mengenal cara berkebun tentulah hasil berbeda dan bahagianya tentu saya sebagai manajer dapur dimana dalam hal sulit di masa pandemik ini sangat membantu sekali. Minuman pohpohan atau curcuma lah itu semua hasil dari kebun yang jadi tidak menjerit dengan mahalnya harga bumbu dapur. Kegiatan berkebun merupakan kegiatan yang positif untuk mengisi waktu luang di masa Covid-19 dan tentu banyak manfaat yang didapatkan dari berkebun di rumah. Seperti yang dikutip dari https://www.suara.com/bisnis/2016/02/17/074028/ini-tiga-manfaat-berkebun-di-rumah
1.Kesehatan Mental
Dengan berkebun, Anda akan melakukan kontak langsung dengan alam dan hal ini bisa meningkatkan mood yang baik dalam diri seseorang. Melihat tanaman yang tumbuh, bunga yang mekar, atau pohon yang berbuah bisa membuat Anda senang. 

2. Kesehatan Fisik
Berkebun juga menyehatkan karena ada aktivitas fisik yang terjadi. Anda akan membakar kalori saat menyiram, menggemburkan tanah, mencabut rumput, dan sebagainya. Merawat tanaman akan membuat tubuh Anda bergerak sehingga bisa membuat tubuh Anda lebih fit.

3.Melindungi Bumi
Selain itu, berkebun menjadi salah satu cara untuk turut menjaga dan melindungi bumi karena bisa membantu menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan menetralkan polusi udara di lingkungan rumah Anda.

Tambahan manfaat yang saya rasakan dari (menikmati) hasil berkebun yaitu
4. Mengurangi pengeluaran
Kita dapat mengurangi pengeluaran untuk belanja sayur dan buah sehari-hari. Dengan demikian, uangnya dapat anda pergunakan untuk keperluan lainnya jadi lebih hemat.
5. Instagrammable
Tanaman dianggap tidak memberikan keindahan bagi pandangan mata. Namun, bila ditanam dalah sebuah halaman atau pekarangan yang dibuat dengan telaten akan menghasilkan pemandangan indah yang bagus dijadikan konten story whatsapp, instagram dan blog dong ya seperti saat ini.

Mari memanfaatkan lahan sekecil apapun untuk bertanam karena banyak cara untuk memanfaatkan media berkebun asal bukan kebun dan pekarangan tetangga. Kalau tidak bisa mari memotivasi keluarga kita untuk berkebun seperti saya sehingga nanti menghasilkan panen yang dinikmati oleh saya hahahahahah

NONGKRONG ONLINE SELAMA COVID-19

Dibeberapa tes psikolog baik yang legal ataupun ala-ala internet saya terduga sebagai anak introvet, suka kaget juga sih tapi begitu baca penjelasannya memang benar sih bahkan sekelas untuk cerita hal yang personal sekalipun dikorek pasti tidak segitu mudahnya untuk menyampaikan isi hati dan kecenderungan anti sosial. Masa pandemik ini banyak yang bilang bersyukurlah jadi anak intovet pasti akan jadi sebuah situasi kenyamanan untuk diam dirumah, bekerja dirumah dan pembatasan kepentingan keluar rumah. Ternyata kenyataannya tidak seperti itu saudara-saudara, anak introvet macam diriku aja sudah gerah, bosan dan gatal ingin sekedar nongkrong sekejap tanpa perlu dimasker, ribet bawa proteksi diri dan bisa leha-leha kalau sudah dirumah tanpa buru-buru ganti baju dan mandi keramas. Mohon maaf ya bukan bermaksud untuk mengeluh tapi sekedar sebuah spam emosi sedetik saja.

Di tengah wabah pandemik Covid-19 yang membuat para karyawan kantor terpaksa bekerja dari rumah, popularitas aplikasi video conferencing untuk tatap muka dari jauh meroket. Mengingat suami adalah orang IT yang punya akses sebagai admin di aplikasi cisco, jadi ketika kosong tanpa meeting tercetuslah untuk melakukan nongkrong online atau gayanya bahasa sekarang nongkrong virtual dengan teman seperjuangan kami di pramuka kampus, FYI kami menikah karena bertemu atau cinlok ketika mengikuti UKM Pramuka UPI Bandung (scrol-scrol blog sebelumnya ya sering ku sisipkan cerita cintaku). Nongkrong online ini terjadi di hari Selasa tanggal 14 April 2020. Kenapa ga pakai zoom seperti pada umunya? Jauh sebelum berita jebol data dan di hack kalau pakai aplikasi zoom, suami memang selalu menyarankan untuk tidak pakai aplikasi tsb kecuali bila terpaksa pun dengan segala proteksinya agar data kita aman. 

Selama nongkrong online memang tidak seperti ketika kita nongkrong yang berhadapan langsung, beda sekali keterbatasan sinyal bahkan aplikasi conferencing kalau dicari sumber informasinya memang nyata adanya sangat menyedot kuota untungnya dirumah pakai wifi jadi ga segondok yang pakai kuota lah. Tentu sebagian besar atau bahkan semua setuju selama covid ini pengeluaran kuota dan pemakaian smartphone bagaikan kebutuhan pokok disamping nafsu makan yang berlebih.

Inilah nongkrong onlineku diluar kebutuhan pekerjaan bersama teman-teman masa kejayaan kuliah, FYI orang-orang ini Alhamdulillah masih pada hidup dengan segala aktivitasnya padahal dahulu perut-perutnya jadi saksi segala macam percobaan makanan yang saya buat, entah efek kepepet daripada tidak ada yang dimakan mungkin hahaha.


doc pribadi (hasil sreenshoot dari PC)

Saran agar nyaman menggunakan aplikasi conferencing baiknya menggunakan laptop saja agar aman dari jebol data dan tangan-tangan jahil. Pastikan sinyal mendukung, aplikasi ini bisa terlihat sekali kalau tidak ada sinyal pasti luplep dan tentunya paket data harus cukup agar setelah nongkrong online ga gigit jadi karena tidak punya kuota buat menemani rebahan.

Kalau tidak bisa untuk nongkrong melalui aplikasi conferencing maka ada hal sederhana seperti chat-chat memalui sosmed yang rutin dan menyamankan tidak sebar-sebar berita yang belum tentu kebenerannya. Yang suka saya lakukan yaitu whatsapp grup voice call, bahkan rekor terlama di masa pandemik ini saya bisa habiskan selama 3 jam. Ngobrol apa aja? Apapun, inilah yang disebut pertemanan ketika bisa mengobrol lama-lama berarti persahabatannya solid. Kami bertemu di suatu tempat yang akhirnya saya resign di tempat itu, katanya kalau kita keluar dari dunia kerja pertemanannya hanya kepentingan profesional dan ketika keluar tidak akan punya persahabatan. Mungkin iya tapi Alhamdulillah saya masih komunikasi dengan tiga orang ini dan teman-teman lain yang bisa rutin untuk nongkrong dengan rutin dan obrolan ga cuma gibahan aja tapi obrolan sharing personal.

doc pribadi hasil SC dari hape

Selalu ada berbagai cara membuat kita selalu bahagia sekalipun kondisi sekarang amatlah membuat mental tidak waras.

NYAMAN SELAMA WORK FROM HOME SELAMA COVID-19

Selama masa covid-19 yang menghimbau kita untuk WFH selain pekerjaan yang memang diharuskan untuk tetap keluar rumah salama pandemik. Bagi orang yang terbiasa berinteraksi dengan orang lain, bekerja dengan nuansa kantor tiba-tiba dirumah dalam jangka waktu yang lama tentulah jadi sebuah masalah bisa menjadi tidak waras secara mental padahal kewarasan mental menjadi sebuah keharusan agar imun selalu terjaga.

Itupun yang terjadi terhadap suami, awal-awal perlu penyesuaian dengan pola WFH (pekerjaan sebagai guru produktif informatika), dimana mainset rumah adalah tempat beristirahat yang kalau ga kepepet ga akan mengurusi pekerjaan. 

Sebagai seorang istri tentu perlu ikut membantu menyamankan suasana bekerja agar tetap produktif. Fase pertama beliau bekerja di depan ruang TV dengan posisi duduk di kursi lalu karena lelah akhirnya duduk dibawah lantai. 

Fase kedua akhirnya saya kasih bantal duduk agar nyaman tetapi permasalahan berikutnya kalau cape akhirnya tidur di kursi. Suka mengeluh sakit badan karena tidur di kursi yang bukan sofa gitu kan ya jadi wajar saja badan jadi sakit.

Fase ketiga tiba-tiba terlintas dalam pikiran kenapa ga sekalian simpen kasur single aja di tempat biasa dia bekerja dan ternyata suasana hatinya lebih baik. Lalu ada pertanyaan kenapa beliau tidak ada inisiatif dalam hal ini, memang secara kecenderungan beliau tidak banyak inisiatif dan rada pasrah sama keadaan jadi istrinya rada vokal urusan seperti ini. 

doc pribadi

Seperti tukang jaga warnet ya hihihi, tapi memang karena suami pekerjaannya di bidang IT jadi seperti itulah penampakan ruang kerjanya sekarang. Ada ruang kerja yang duduk di kursi tapi entah mengapa selama masa ini tidak tersentuh sama beliau mungkin kalau bosan dengan posisi rebahan santuy dia akan bekerja dengan posisi duduk.


doc pribadi

Karena istrinya juga sibuk utak atik dapur akibat nafsu makan main naik selama banyak diam dirumah jadi ada bonus yang menemani si makhluk lucu warna abu-abu dan bila beliau lelah di depan layar bisa dipakai rebahan. Siapa tau posisi nyaman ini bisa jadi referensi yang membaca dan mengatur tempat bekerja agar nyaman. Ketahuilah kita harus tetap waras dan nyaman di rumah agar imun tidak ngedrop. 

Jumat, 24 April 2020

PENTINGNYA PENAMPILAN SELAMA MASA COVID-19

Tulisan pertama saya di bloger perempuan ingin yang simpel-simpel saja mengingat menjalani kehidupan selama masa pandemik ini sudah bikin imun suka autodrop. Apalagi sudah banyak melewatkan tulisan dengan hutang-hutang yang tentunya akan kulunasi secara bertahap xixixixi.

Pernah ada di fase repot kalau mau pergi kemana-mana karena harus berpenampilan oke dan make up selalu on?

Hampir sebagian besar perempuan ketika keluar rumah tentu yang dipikirkan adalah penampilan minimal tidak terlihat sudah mandi sekalipun belum tentu. Ketika sebelum masa pandemik ada sebuah pepatah perempuan pada umumnya suka mengatakan, "Tidak apa-apa belum mandi yang penting jangan lupa pakai lipstik". Tentu pepatah ini tidak berlaku ketika masa pandemik ini dimana sekalipun masker dibuat selucu mungkin tentu tidak terlihat warna lipstik kita yang merona.

Jadi sekarang saya punya pepatah di penampilan perempuan sekarang, "Tidak apa-apa belum mandi yang penting riasan mata pastikan tidak terlihat kerutan dan mata panda" (mau pakai alis suka ga berani karena misua autoambilitisubasahsayyyyy.  Bagi saya perempuan berhijab, dengan keluar untuk kepentingan mendesak dan memang harus keluar terutama urusan perut yang perlu diwaraskan agar imun tetap baik, kerudung yang dipakai benar-benar dibuat senyaman mungkin dan simpel. Sudah tidak ada istilah hijab ala ala deh buat nyaman memakai masker aja udah bikin nafas berasa sesak, terutama ketika wilayah Bandung Raya kena aturan PSBB yang harus pakai masker kemana-mana (domisili tempat tinggal saya di Cimahi).

Ini beberapa tampilan penampilan saya pada saat keluar rumah 

Tampilan look hijab dan make up kalau keluar rada jauh seperti ambil uang ke ATM, belanja ke minimarket/supermarket atau lainnya dimana minimal sejam keluar dari rumah





Tampilan look hijab dan make up kalau keluar dekat seperti warung sayur, beli-beli yang sekitar rumah atau kunjung ke rumah tante yang di depan rumah




Sesuai dengan saran dan himbauan yang saya baca dan dengar dari beberapa artikel ketika kita pulang dari keluar rumah dan berinteraksi dengan orang, maka setelah pulang harus segera lepas alas kaki, seluruh pakaian diganti termasuk masker (selama masa pandemik ini saya menggunakan masker kain dengan berbagai tipe, pertama tidak mau ikut panik dengan mencari masker bedah dan memang aktvitas masih dalam taraf normal) dan mandi keramas. Peralatan tempur yang saya bawa ketika keluar rumah ada di tulisan http://simiati257.blogspot.com/2020/03/peralatan-tempur-ketika-keluar-di-masa.html

Menjaga penampilan tentu penting selama hampir sebulan dirumah jadi suka merasa baju tidur dan baju santai rumah lebih sedikit daripada pakaian keluar mungkin bisa nanti ketika pergi ke dapur harus memakai pakaian nongkrong dan seragam kerja (baju ngajar maksudnya) hahahahahaha. Jangan lupa make up yang sudah dibeli dan tidak pernah dipakai agar sesekali dipakai, karena bisa jadi dahulu kita ingin berpenampilan cantik untuk orang lain bukan untuk keluarga terutama suami. 


Minggu, 12 April 2020

JARAK MENJADI SEBUAH BARANG MEWAH


Sebagai anak yang jauh dr orang tua dan mertua kondisi sekarang adalah sebuah hal paling pelik yang dirasakan dimana himbauan pemerintah untuk tidak memperbolehkan mudik sebuah hal paling drama. Walau masih dalam satu provinsi tapi mudik dan mengunjungi orang tua tidak bisa dilakukan secara sering mengingat persiapan finansial pun amat perlu dipersiapkan.

Jarak menjadi sebuah hal yang amat mewah saat ini apalagi ketika orang tua sudah mulai menanyakan kabar dan meminta untuk diam saja di tempat orang tua. Ingin pulang sudah pasti karena di masa sekarang arti keluarga amat terasa sekali tapi rasa sayang untuk memutus rantai penyebaran amatlah penting.

Ini hanya sebuah coretan kelelahan akan pelik kehidupan yang sudah mulai membosankan, untuk tipe tertutup dan hidupnya senang rebahan saya pun sudah jengah dan ingin segera berakhir dan melalukan aktivitas seperti biasa. Saat ini yang tak mungkin merasa jadi manusia paling susah, dengan suka melihat sekitar bahkan untuk makan sekalipun harus gadai barang tentu jadi sebuah tamparan agar selalu bersyukur dan menikmati hidup

Minggu, 29 Maret 2020

PERALATAN TEMPUR KETIKA KELUAR DI MASA SOCIAL DISTANCING

Per tanggal 16 Maret 2020 pemerintah menghimbau untuk kita melakukan social distancing yang sepertinya tak perlu lah dijelaskan pengertian dan konsep semacam kuliah online wkwkwkwk. Himbauan yang bertujuan untuk beraktivitas di rumah demi mencegah dan memutus rantai penyebaran virus Corona (COVID-19). 

Ada kalanya ketika harus keluar demi sekedar beli bahan logistik rumah terutama makan karena asupan perut tidak bisa di lockdown konon kabarnya dan memang begitu. Berdasarkan pengalaman dua minggu saya keluar dalam jangka jarak dekat seperti rumah tante (karena depan rumah) demi menjaga silahturahmi serta berinteraksi selain dengan bapak suami (selama pacaran dan menikah rekor sekali untuk kami karena tidak pernah sampai 10 hari lebih bersama 24 jam karena ya kami adalah pasangan yang selalu berinteraksi dengan orang lain dan main keluar), belanja besar ke supermarket andalah ya Yogya Cimahi itu dilakukan seminggu sekali karena diriku tak bisa beli gila-gilaan mengingat pemasukan lumayan tidak sebanding dengan pengeluaran (setuju dong ya kalau selama diam dirumah pengeluaran jauh lebih besar) lalu bila kurang ku mengandalkan  warung sayur deket rumah seperti beli sayur dan lauk segar.

Kalau pergi ke Yogya ini deretan perlengkapan tempur ya tempur karena kita perlu menjaga diri sendiri agar selalu alright tentunya.


doc pribadi

Itulah deretan peralatan tempur yang ku bawa dalam tottebag terdiri dari
1. Masker 
2, Cairan disinfekta hasil bikin sendiri dari rebusan daun sirih, ini sebenernya banyak direferensi buat handsanitizer alami tapi kufungsikan untuk disinfekta darurat ketika keluar rumah
3. Handsanitize buatan sang sepupu Isma dan Iin
4. Tisu basah
5. Tisu kering
6. Air minum demi menjaga agar tidak dehidrasi 
7. Payung 
8. Aneka tote bag demi mengurangi penggunaan kresek 
9. Permen
10. Pouch yang di dalam berisi dompet duit dan dompet atm (ketahuilah semua dipersembahkan dari souvenir nikahan semua)
11. Catatan belanja agar mengurangi membeli yang tidak sesuai kebutuhan (walau suka ada khilafnya dengan beralasan ini kayanya butuh buat dirumah)
12. Hape tentunya biar tetap jadi anak online dan membuang kuota dengan benar mengingat diam dirumah pakainya wifi aja
Sebenernya peralatan-peralatan diatas bukan hanya ketika masa distancing saja kubawa karena sesungguhnya ketika ku pergi selalu bawa sebagain besar barang-barang diatas sampai disebut loba gegembol kalau istilah sunda, gatal aja gitu kalau cuma bawa dompet sama hape aja.

Dan ini penampakan ketika mau berangkat yang entah mengapa kadang masih suka dilihat aneh aja sama orang. Karena ku menyadari tubuhku amat ringkih dan punya imun kurang baik rentan sama penularan jadi lebih baik mencegah dan membatasi diri dalam kerumunan. 

PS : Iya tau ini yang dipakai masker kain karena masker yang dipunya amat terbatas dan belum urgen secara kesehatan jadi pakai yang bisa dicuci ulang. Karena ku keluar ketika merasa imun dalam kondisi kuat dan tidak memaksakan diri ketika merasa kurang sehat. Alhamdulillah tahun kemarin memutuskan keluar dari pekerjaan inti (panjang lah kalau diceritakan mungkin nanti kalau mau) dan pekerjaan banyak bersifat online sekalipun offline tidak sebanyak hari ketika dahulu itupun WFH jadi memang tidak ada aktivitas selain belanja yang harus memaksa diri untuk keluar. Nongkrong kan sedang tidak diperbolehkan dalam situasi sekarang ya kannnn.

doc pribadi

Hikmah yang amat disadari setelah kejadian ini jadi lebih banyak quality time dengan keluarga karena situasi sekarang membuktikan tempat terbaik adalah rumah dan keluarga. Terutama akhirnya kita bisa untuk menjalankan pola hidup sehat secara tidak langsung baik secara interaksi dan pola makan kita. Semoga situasi segera membaik dan virus-virus segera hilang agar bisa bercengkrama dalam interaksi sosial tanpa perlu membatasi diri dengan segala proteksi dan menjalankan Ramadhan seperti biasa sekalipun sudah ada himbauan untuk dilarang mudik huhuhu. Berikutnya akan kutuliskan saran menu selama masa social distancing bagi yang sudah mulai pusing mau masak apa lagi (doakan ga mager dan ga kebanyakan gabut hahahahahaha)

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
-SOEKARNO-


Minggu, 15 Maret 2020

REVIEW NOVEL HELEN DAN SUKANTA




Judul Buku : Helen dan Sukanta
Penulis : Pidi Baiq
Penyunting naskah :Fuad J
Ilustrasi buku : Pidi Baiq
Desain buku : M Kurnia FN
Proofreader : Febti Sribagusdadi R
Setter : The Panasdalam Desain
Cetakan pertama Oktober 2019
ISBN : 978-623-92083-0-1
Penerbit : The Panasdalam Publishing
Distribusi : Mizan Media Utama



BLURB :

Di restoran Indonesia Lachende Javaan, Haarle, Belanda, tahun 2000, Nyonya Helen bercerita kepada saya tentang masa lalunya selama dia tinggal di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia.

"Saya lahir dan tumbuh di Ciwidey. Masa remaja saya, saya habiskan di Bandung, sampai kemudian Jepang datang pada tahun 1942 dan mengubah semuanya."

Nyonya Helen kemudian menceritakan juga kisah asmara yang dia jalin bersama Sukanta, seorang pribumi. "Firasat saya benar, saya menyukai Sukanta. Itulah yang saya rasakan.

Harus ada yang mengerti bagaimana Nyonya Helen merasakan semua kenangannya. Tidak ada yang tahu sudah berapa banyak rindu menguasai dirinya sejak dia mengucapkan selamat tinggal kepada Indonesia.

" Nah, sekarang, diamlah. Ini cerita saya, dan semua benar-benar terjadi."


SINOPSIS

Lihat dari judulnya, kita sudah bisa menebak bahwa ini tentang roman apalagi ketika membaca blurbnya.  Kisah tentang  dua insan manusia berbeda bangsa dan kasta yaitu Helen dan Sukanta. Walaupun latar ceritanya di masa Indonesia sebelum merdeka. Tenang saja, ini bukan kisah klasik kasih tak sampai, seperti umumnya roman angkatan 1920, 1930 dll. Hanya saja ceritanya berbeda dengan gaya penulisan khas dari pidi baiq.

Helen Maria Eleonora, lahir awal tahun 1924 di Kawasan Tjiwidei (Ciwidey). Seorang keturunan Belanda, namun mencintai Indonesia. Suatu hari, keponakan dari salah satu pegawai Papa-nya berada di rumahnya untuk membantu pamannya. Tak disangka, setelah saling mengamati, lama-lama Helen berteman dengan Sukanta, seorang pribumi yang biasa dipanggil Ukan. Pertemanan yang awalnya biasa saja. Namun suatu hari saudara Papanya yang berkunjung dan sempat tinggal di rumah Helen, tidak menyukai kehadiran Ukan. Papanya Helen pun terpengaruh dan berusaha memisahkan Helen dengan Ukan.

Ukan berhasil disingkirkan dari kampung dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Helen tentu saja sangat bersedih. Hingga akhirnya memutuskan untuk pindah sekolah ke Bandung ditemani dengan pegawai setianya yang sejak kecil telah mengurusnya, Siti. Tidak lama setelah Ukan menghilang dari kampungnya, ibunya Ukan meninggal. Helen sangat bersedih. Di Bandung, dia punya teman baru. Bahkan ada beberapa teman pria Belanda yang menyukainya, pernah dekat. Bahkan saat itu ada seseorang yang sangat menyukai Helen datang ke rumahnya, namun dari balik semak  ada seseorang yang mengawasi mereka. Ternyata dia adalah Ukan. Sejak saat itu, Helen dan Ukan seolah tak terpisahkan. Papa dan Mamanya Helen pun merestui hubungan Helen dan Ukan, dan juga hadir di pernikahan anak semata wayangnya. Pernikahan yang sederhana, namun mereka sangat bahagia.

Sayangnya, tak lama setelah mereka menikah, sebuah peristiwa besar di mana  Jepang datang menguasai Indonesia, membuat  banyak warga negara Belanda yang dipulangkan, termasuk Helen. Saat itu, Helen sedang mengandung anak pertamanya. Akankah Helen dan Ukan bisa bertemu kembali? Apakah Ukan pernah mencari Helen? Bagaimana nasib kandungan Helen? Akankah Helen bisa melupakan Ukan setelah berpisah benua? Bagaimana akhir kisah Helen dan Ukan?


PENDAPAT SECARA UMUM

Cinta Helen dan Sukanta, terasa sangat manis. Meski ditimpa kenyataan pahit bahwa noni Belanda 'dilarang' berhubungan dengan pribumi. Bahkan saking manisnya, saya tidak merasa bahwa saat itu orang-orang Belanda begitu menyebalkan, karena menganggap rendah bangsa kita. Menjadikan orang pribumi babu di rumahnya sendiri.

Helen menjadikan saya menyayangi nona Belanda yang lembut, anggun, dan cantik ini. Nona Belanda yang mencintai Sukanta, sang pribumi rendahan dengan tulus dan setia. Meski mendapat penolakan keras pada awalnya. Jangan dibayangkan karakter helen sama seperti gambaran milea dan ukan seperti dilan ini jauh sekali. Sekedar informasi novel ini sudah jauh duluan hanya perampungan lama mengingat pidi baiq amat detail pada setiap plot tempat dan situasi sama seperti kondisi tahun 1930-1950 an. Tapi kebaperan kalau kita baca novel ini sama persis karena quote yang bikin baper parah.

Saya kira hubungan yang terlarang ini akan berakhir dengan perpisahan gitu aja. Ternyata, takdir menulis cerita roman Helen - Sukanta dengan begitu indah. Sebelum perang dunia kedua pecah. Dua sejoli ini berhasil membuktikan pada dunia bahwa mereka bisa bersatu. Menikah, bahagia, bahkan hingga sang calon bayi akhirnya hadir di tengah-tengah mereka.

Saya salah untuk kedua kali, saya kira akhir cerita ini akan bahagia. Tapi sayang, ini bukan novel fiksi, yang ujungnya bisa diatur penulis semaunya sendiri. Tetapi ini kisah nyata. Fakta bahwa Belanda berhasil dipukul mundur Jepang pada perang memperebutkan kekuasaan atas Indonesia memisahkan semuanya.

Kenyataan bahwa Belanda harus terusir dari Negara Indonesia menjadi ujung dari kisah cinta Helen dan Sukanta. Mungkin saat itu, di tahun 1945 Indonesia meneriakan kemerdekaannya. Pahlawan kita merayakan kebebasan. Tapi di sisi lain, Helen sang nona Belanda menjerit. Hingga menyalahkan Tuhan yang menulis takdirnya begitu pahit.

Kehilangan suami tercinta yang tidak pernah tahu nasibnya, kehilangan calon bayi yang dikandungnya, kehilangan orangtua yang tak tahu kabarnya.

Hingga halaman terakhir novel ini, saya masih belum bisa percaya. Oma Helen yang kembali ke Belanda, tidak menikah lagi hingga akhir hidupnya, setia pada cinta sejatinya untuk Sukanta. Membaca dialog:

"Sampai sekarang, tidak pernah ada kabar tentang Ukan?"
"Aku selalu menunggu"
"Di Belanda, Oma tidak menikah lagi?"
"Aku setia pada masa laluku"
-361-

Darah saya berdesir kuat, merinding, tak terasa saya menangis, cinta sejati itu ternyata benar-benar ada.

Yang menarik dari novel ini:

1. Sensasi membaca novel ini rasanya antik klasik-lah, kisah klasik masa sebelum merdeka yang ditulis dan rilis di zaman sekarang, tetap menyenangkan untuk di baca.
2. Lihat cover-nya saja, dimata saya terlihat klasik.
3. Lewat novel ini, saya seakan diajak mengenal Ciwidey di masa  belum merdeka. Keindahan alamanya, suasananya, sepertinya melekat sampai sekarang. Bukankah begitu banyak tempat wisata alam yang bisa dikunjungi di daerah tersebut? Sebut saja Kawah Putih yang sangat eksotis di daerah ini. Cerita yang berlatar belakang Indonesia sebelum merdeka di daerah Bandung dan diangkat dari kisah nyata seorang wanita Belanda dan ditulis oleh Pidi Baiq ini sangat menarik. Dengan gaya khasnya Pidi Baiq yang sudah dikenal dengan karyanya Dilan dan sudah diangkat ke layar lebar, membuat novel terbaru karya Pidi Baiq ini tetap layak dinikmati.
4. Saya juga suka, meskipun Helen sangat berpendidikan dan tentu saja didikan orang Belanda, tapi tidak sombong dan sangat merakyat di zaman itu, bahkan ia mau belajar bahasa kesehariannya Ukan di kampungnya. Beberapa penggalan kata dalam bahasa Sunda yang diucapkan Helen membuat percakapannya terasa lucu dan seru. Ukan juga bisa berbahasa Belanda.

Beberapa quote novel yang diambil dari mbah google tercinta






Minggu, 23 Februari 2020

HIDUP BAGAIKAN PERJALANAN kERETA API





Perjalanan hidup seperti  kereta api pun penuh dengan sukacita, dukacita, imajinasi, harapan, dan juga diwarnai dengan ucapan pamit dan perpisahan

Maka ada baiknya kita haruslah menjadi "penumpang" yang baik, dengan cara mengasihi, memaafkan, dan memberi yang terbaik yang bisa dilakukan pada penumpang yang lain

Ketika tiba saatnya bagi kita untuk turun di stasiun yang kita tuju dan meninggalkan kursi, sebisa mungkin kita meninggalkan kenangan-kenangan indah bagi mereka yang akan terus melanjutkan perjalanannya. Seperti meninggalkan gesture tanpa perlu berucap berterima kasih kepada teman-teman, karena telah menjadi salah satu penumpang dalam kereta api “kehidupan kita”.

Aku berusaha membuang dan mengobati diriku pada semua bagian sedih dan menyakitkan antara kita ketika masih dalam satu ruang dan dimensi yang sama dalam jangka waktu rutin.

Aku berusaha hanya menyisakan semua bagian yang indah saja. Agar suatu hari bila nanti Allah mengizinkan kita untuk berkumpul kembali entah akan selengkap ini atau sebagian. Entah sering ataupun seperti hubungan LDR.

Itulah mengapa pamit tak ingin terucap agar kita masih bisa tersenyum dan menertawakan kesedihan di masa lampau.

Banyak yang mengatakan bahwa rahasia terbesar dalam hidup ini yaitu ketika kita melewati hari dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan keimanan. Dengan cinta hidup menjadi indah dan hati bahagia. Dengan ilmu hidup menjadi mudah memaknai segala hal. Dan dengan keimanan hidup menjadi terarah dan pengingat untuk menjadi pribadi lebih baik.

Mari kita mulai saat ini, belajar untuk tetap mampu menikmati dan mensyukuri setiap tahapan perjalanan kehidupan.

Terima kasih untuk semua tahapan dalam perjalanan hidup yang membuat hari ini saya bisa tersenyum melihat masa lalu seperti pidi baiq bilang dalam novel Helen dan Sukanta, "Mudah-mudahan menjadi bijaksana, untuk tidak mengadili masa lalu dengan keadaan di masa kini."


Love regard
Rapunzel cimahi

*tulisan berdasarkan gabungan beberapa feed instagtam pribadi*

Minggu, 26 Januari 2020

SAKOCI (SABA KOTA CIMAHI)

Akhirnya sebagai orang lahir di cimahi dan sekarang berdomisili di cimahi (KTP Sumedang karena manut suami aja urusan administrasi mah) bisa menyempatkan waktu naik SAKOCI alias saba kota cimahi. Melewati Alun-alun kota Cimahi, Jalan Amir Mahmud, Jalan Gatot Subroto, Jalan Poncol, Jalan Baros, Jalan Haji Haris, Jalan HMS Mintaredja, Jalan Kerkof dan berakhir di Kampung Adat Cireundeu untuk beristirahat sejenak (dalam tulisan ini tidak akan diceritakan secara detail biar ga spoiler dan jadi penasaran yang baca jadi ingin mencoba). Apalagi ketika sampai di Kampung Adat Cireudeu semacam ajang nostalgia dimana tahun 2010 pernah kesana demi mendapat nilai salah satu mata kuliah dengan observasi ke kampung adat, tidak sampai masuk ke dalam karena pasti perlu izin khusus dan waktunya tidak akan sebentar untuk mengenal lebih dalam bagaimana budaya disana.

Doc pribadi


Selain bonus dapat ilmu tentang sejarah dan segala keunikan kota cimahi tentunya setiap laju sepanjang jalan semua mata tertuju padamu. Dengan segala keunikan transportasinya itu bikin mata ga sanggup untuk tidak menengok.Kalau tidak percaya cobalah sebagai penumpang dan penonton pasti akan menemukan sensasi berbeda. 

Doc Pribadi


Kalau ingin mencoba jangan lupa perhatikan waktu-waktunya karena hanya di 4 waktu yaitu : 08.00, 10.00, 13.00 dan 15.00 dengan karcis hanya 20.000. Tapi tidak disarankan naik pada saat hujan. Paham ya kalau sudah lihat fotonya. Dimana naiknya? Alun-alun kota cimahi depan puskesmas atau mungkin yang ingat ramayana cimahi ga jauh dr sana. Ada loket tiket untuk bisa langsung beli tiketnya atau bisa ketika naik kita bayar ke pemandunya.

Doc. Pribadi


Dan setelah ratusan purnama ku baru tahu dari aa pemandu bahwa tinggal di california bukan jalan kalidam maybe yang mau main ke cimahi jangan lupa urus visa dan bawa paspor ya #bercandareceh. Sebuah perjalanan yang menyenangkan apalagi bersama keluarga jadi tidak merasa dosa pernah naik Bandros tetapi belum pernah naik SAKOCI. 

Doc Pribadi


Tulisan ini pernah di publis di instagram dengan perubahan seperlunya https://www.instagram.com/p/B7f8vSSHHyN/?igshid=1s2tzyny6nx2c

Yuk coba naik SAKOCI atau kalau yang ke Bandung minimal 

Minggu, 22 Desember 2019

KEKUATAN MECIN PADA KEHIDUPAN DAPUR MIA

Mengutip dari tribuntravel.com Micin alias monosodium glutamat (MSG) adalah penambah rasa yang biasa ditambahkan ke dalam makanan.

Akan tetapi, dari sekian banyak riset dilakukan sejak muncul kabar MSG berbahaya bagi kesehatan, juga bisa menyebabkan kebodohan, tidak ada yang bisa menemukan bukti pasti adanya hubungan antara MSG dan gejala-gejala tersebut.



Pada setiap dapur pastilah ada bumbu penyedap rasa atau segala sesuatu yang sifatnya micin. Inipun yang terjadi kepada saya terutama setelah berumah tangga. Sebuah aktivitas masak yang memakai bumbu-bumbu dan tepung instan merupakan kekuatan micin dalam rumah tangga.

Ini bukanlah sebuah panduan yang harfiah hanya sebuah sharing singkat di kehidupan dapur seorang mia. Mudah-mudahan yang menganggap masak adalah sebuah aktivitas yang ribet dengan baca ini mau memulai masak yang simpel dan tentunya pasti enak karena tidak ada micin yang tak enak pastinya

1. Sambal instan


Bukan berarti harus sesuai merk ya tapi bisa pakai jenis sambal lainnya. Dari sambal instan ini menjadi sebuah masakan : nasi goreng, mie goreng, bihun goreng, tumisan (kalau malas potong2 bawang) dan tentunya sebagai cocolan lauk

2. Sup instan

Sebuah masakan tanpa sayur tidaklah lengkap tanpa semangkok sayur untuk sebagian orang mengingat kebutuhan serat perlu dipenuhi pada tubuh. Ribet pasti adegan potong-potong sayur itu dan segala kaldu agar ketika disendokkan kuahnya berasa gurih dan enak. Pakailah salah satu jenis sayur instan ini ditambah telur puyuh, jenis sayuran (bergantung selera kalau saya pakai brokoli, wortel) bahkan bisa ditambahkan baso (beli ke tukang baso minta kuah rada banyak biar sekalian buat kaldu). Ketika masak ini saya selalu mengatakan sayur sup micin ala mia 

3. Tepung instan
Mau bikin bala-bala/bakwan/gorengan ribet sama iris-iris dan ulek-ulek bumbu?
Tak usah repot ada ini dan merk lain sebagai solusinya. Kalau cuma dipakai tepung bakwan aja bikin hasil gorengan basah jadi tambahkanlah bumbu tepung ayam biar lebih krispy. Tambahkan gula dan daun bawang seledri biar ga terlalu micin banget.

Ini beberapa kekuatan micin pada dapur mia, mungkin kalau ga malas nanti ada tulisan berikutnya beserta resep di setiap masakan instan ini tapi nanti lah ya 

Selamat berkreasi dan jangan takut gagal karena masak bukan kemampuan tahu bulat yang langsung perlu diasah dan dipraktekan agar menemukan enaknya masakan bisa dimakan enak untuk orang lain bukan hanya diri sendiri semata