Minggu, 09 Desember 2018

HUJAN ADALAH AIR

Memasuki bulan desember pada umumnya kita akan melewati musim liburan akhir tahun dan sudah tentu macet dimana-mana. Cuaca pun pada umumnya dibulan ini hujan yang terkadang membuat jadi kendala apabila kita ingin bepergian.

Ketika saya menanyakan makna hujan di aplikasi bertanya yang disediakan di Instagram dan muncullah beberapa jawaban.


Orang yang berpikir logika akan menjawab bahwa hujan adalah air yang jatuh dari langit. Ketika hujan turun ya berteduh kalau tidak bawa payung atau jas hujan, mau buru2 ya hujan-hujanan. Bahkan mempertanyakan mengapa bertanya tentang hujan

Ketika bertanya kepada orang yang memiliki sisi kebaperan maka muncullah beberapa kalimat puitis seperti
1. Hujan itu dia yang selalu buat aku merindu. Dia suka hujan dan aku jadi membenci hujan
2. Rintik rindu
3. Tenang, aku tu suka banget sama ujan apalagi kalau ujan gerimis gemez
4. 99% kenangan 1% air
Dan beberapa jawaban yang apabila dirangkai menjadi novel

Mengutip kalimat di novel hujan karya Tere Liye
"Jangan pernah jatuh cinta saat hujan karena ketika besok Lisa kamu patah hati. Setiap kali hujan turun, kamu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu."

Hujan bagaikan sebuah perjalanan yang ada pemberangkatan dan pemberhentian jadi nikmatilah dinamika kehidupan yang terkadang seperti cuaca yang kadang tak menentu

Minggu, 25 November 2018

CANTIK

Sumber : https://pertamakali.com/kumpulan-kata-kata-bijak-tentang-kecantikan/

Kecantikan adalah karunia yang diberikan oleh Sang Maha Pencipta. Berbekal akal, nafsu dan hati terkadang perempuan tidak puas dengan kadar kecantikan yang diberikan kepadanya. Dan akhirnya melakukan perubahan pada kecantikan dasar dan peralatan yang digunakan untuk mengubah kadar kecantikan adalah make up. Dengan make up, perempuan yang awalnya merasa kurang cantik dapat diubah menjadi lebih cantik. 

Dibalik semua itu tahukah kamu bahwa hakikat menjadi cantik dengan make up adalah tidak asli (original). Karena jika make up tersebut hilang maka kecantikanpun memudar. Ada kecantikan hakiki yang harusnya dimiliki oleh setiap wanita yaitu kecantikan dari dalam (inner beauty). Kecantikan ini memang kadang kala tidak terlihat namun bisa dirasakan manfaatnya dibandingan dengan kecantikan fisik yang merupakan polesan make up.

Ada pepatah bijak mengatakan
"Perempuan yang cantik itu adalah wanita yang cantiknya bukan sekedar dinilai dari seberapa orang memuji paras rupa tetapi seberapa banyak orang yang menyukainya karena kebaikan akhlak, ibadah dan prestasi."

Senin, 22 Oktober 2018

ATURAN TERLUPAKAN


Sekolah
Tempat mencerdaskan calon penerus bangsa!

Beberapa materi pelajaran kudapati disini, matematika, kimia, fisika, bahasa indonesia, kesenian, prakarya dan masih banyak materi lain yang tak dapat kusebut satu persatu, sebagai murid aku pun menjalani peranku… menerima setiap pelajaran yang memang sudah ditentukan sekolah, sebagai murid aku juga mentaati peraturan yang telah dibuat, tentu aku juga harus terima, bahkan ketika seorang guru menyuruh mengerjakan PR sekolah, aku juga tak bisa protes.

Sampai detik ini aku masih bertahan dengan statusku sebagai murid yang menaati peraturan sekolah.

Setiap pelajaran pasti ada yang membosankan bagiku, entah karena gurunya yang belum berpengalaman atau mungkin karena pelajarannya yang tidak disukai, entahlah… aku hanya bisa menerima apa yang mereka berikan.

Sampai detik ini masih terasa wajar-wajar saja kehidupan di sekolah, seorang guru mengatakan “Kalian dilarang memakai make up di sekolah!”. Kami pun nurut saja karena memang itu sudah menjadi peraturan di sekolahku, seorang teman bertanya padaku “hei, sist kalo di sekolah tidak boleh memakai make up berarti kalua lagi hangout boleh dong ya?”

Aku pun nyeletuk “tentu saja kan peraturan hanya berlaku di sekolah”.
Lalu guru itu melanjutkan perkataannya. “Kalau kalian sempat kedapatan memakai make up  di sekolah kalian akan diskors dari sekolah”.

Sebagai murid tentu saja harus taat peraturan, kami pun tak pernah sedikit pun melanggar nasehat guru tersebut (bila tidak terlihat).

Bulan berganti tahun tak terasa kami pun sudah akan naik kelas, tentunya sebelum itu harus melewati ujian terlebih dahulu.

Ujian jaman sekarang bisa dibilang gampang-gampang susah, bagaimana tidak ketika kita menemui guru yang “kutu buku” kami harus menjawab soal untuk dapetin nilai bahkan jika belum cukup harus remedial (mengulang), nah, kalo guru yang satu ini sih lumayan ribet urusannya karena ketika jawab soal harus benar-benar tepat jawabannya sesuai buku, ada lagi guru yang asyik nih tidak maksain kehendak yang penting jawaban sudah mendekati sudah dianggap benar, oke lanjut…

Semua tipe guru di atas adalah wajar bagi kami, karena guru juga manusia kan, punya karakter yang berbeda-beda.

Yang paling aku merasa aneh adalah guru prakarya karena biasanya dia cuman menyuruh muridnya untuk membuat keterampilan tangan, bebas sesuka hati, aku sih masih merasa wajar karena keterampilan tangan juga salah bentuk dari karya.


Salah satu teman mengatakan padaku.
“Hei, sist kamu buat keterampilan apa?”.
Aku pun menjawab. “Buat kotak make up  dari karton duplex  sist, soalnya aku males buat lain, cuma itu yang aku bisa? Gimana menurutmu lebih bermanfaat kan “.
Temanku pun menyahut. “Eh tapi kan di sekolah ini peraturannya tidak boleh memakai make up, sist?”.
Aku pun menjawab. “Eh, siapa bilang lihat tuh guru yang nyampaikan bahwa di sekolah dilarang memakai make up, eh dia memakai make up juga kan di sekolah bahkan ketika sedang mengajar?”.
“Betul juga sih sist”. Kata temanku.
Kami pun mulai membuat kotak make up  dari karton duplex , setelah siap barulah kami serahkan pada guru prakarya.

Hasil karya kami dikasih nilai yang lumayan bagus, selain itu guru tersebut juga senang dengan karya yang kami buat.
Dalam hatiku berkata, lemari kecil itu kan aku buat asal jadi aja gak ada yang istimewanya dan lagian aku memang gak bisa buat keterampilan lain dari itu karena males aja.

Coba saja jika dia paham dengan peraturan sekolah ini pasti kami udah diskors karena telah membuat kotak make up  dari karton duplex yang artinya mendukung orang buat memakai make up, aneh juga jika dipikir.
Nasehat dari guru itu kami langgar dengan membuat kotak make up  dari karton duplex tetapi mereka sendiri lupa dengan peraturan yang berlaku di sekolah, gimanalah sekolah zaman sekarang, aneh betul.

Sumber : http://tulisanmahasiswasosant.blogspot.com



Senin, 15 Oktober 2018

ANGAN DI BALIK JENDELA



Terdengar suara adzan subuh dari masjid As Salam di belakang rumah, Nadine terbangun lalu mengusapkan kedua matanya sambal menggeliat. Dilihatnya Mutia adiknya masih tidur pulas memeluk guling. Segera ia bangkit, Nadine membuka jendela kamarnya, angin dingin yang sedikit lembab menerpa wajahnya. “ Wuuff, dinginnya!”. Dilihatnya langit masih berwarna kelabu tampak dua tiga bintang berkedip – kedip sudah mulai meredup sinarnya seolah mengucapkan perpisahan kepada Nadine untuk bertemu kembali malam berikutnya. Di sela daun pohon – pohon manga di halaman masjid yang rimbun terdengar cicit burung.
 
 
Related image 

Sambil memandang di balik jendela ingatan Nadine jadi menerawang pada peristiwa dua tahun yang lalu. Saat itu ayah mengajaknya bersama Mutia ke Bandung untuk menjemput Bunda yang sudah berakhir menyelesaikan sidang tesis tinggal menunggu waktu wisuda. Waktu itu bulan Oktober dimana Bandung dalam musim hujan yang bagi orang Jakarta udara di Bandung masih sangat dingin  berbanding terbalik dengan udara Jakarta.

Mereka menginap di rumah kontrakan yang ditempati Bundanya di daerah Setiabudi, pada hari kedua Nadine masih mengantuk walau sudah pukul enam pagi, perbedaan cuaca membuat Nadine ingin bermalas-malasan di balik selimut.  Nadine memaksakan diri untuk keluar dari selimut ketika mendengar suara gemerisik di balik jendela kamarnya. Ada suara – suara aneh mengetuk – ngetuk kaca jendela kamarnya, dengan penuh ingin tahu Nadine menyingkap tirai jendela. Hampir saja dia berteriak keras karena sangat terkejut, tepat di depan hidungnya ada dua ekor burung putih berparuh kuning bertengger di tepi jendela. Untunglah jendela itu masih tertutup kaca, seperti juga Nadine dua ekor burung itu pun terkejut dan terbang, tetapi mereka segera hinggap lagi di ranting pohon yang ujungnya berjuntai mengenai kaca jendela. Mereka mematuk – matuk benda berbentuk bulat sebesar kepalan tangan, benda itu bergantung di ranting pohon dan ketika Nadine memperhatikan lebih teliti ternyata benda bulat itu adalah biji-bijian yang sengaja digantung dengan tali di dahan itu. 

Nadine membuka kaca jendela, ia menjulurkan kepalanya keluar tampak pohon-pohon lain juga ramai dihinggapi burung-burung. Hewan – hewan itu sibuk mematuki biji- bijian yang tergantung di beberapa dahannya. “Selamat pagi!” suara berta seorang laki-laki separuh baya menyapanya dari balik pohon. Laki-laki itu adalah Pak Budi, petugas kebersihan dan keamanan untuk wilayah Bundanya mengontrak. Nadine hanya tersenyum binggung mau membalas apa sapaan bapak tersebut. Lalu Pak Budi melanjutkan hobinya untuk menggantungkan bulatan biji – bijian seperti yang telah dilihatnya tadi, sementara itu burung – burung semakin riang bermain diantara daun-daun pohon sekeliling rumah kontrakan. Mereka tampak jinak meski kalau didekati menjauh. 

Alangkah senangnya burung – burung itu mereka mencari makan tanpa ada yang mengganggu, bahkan makanannya pun sudah disediakan tanpa perlu menjadi peliharaan dan terkurung dalam sangkar. Alam jadi terasa indah ditimpa suara burung yang sungguh menyejukan hati. Di Jakarta Nadine hanya bisa mendengar suara bermacam – macam burung di Taman Burung TMII atau di Kebun Binatang, tetapi tidak bisa memandangi di balik jendela kamarnya. 

Tiba - tiba Nadine tersadar dari lamunannya ketika dua ekor burung gereja terbang melintas di atas kepalanya lalu hingga di tali jemuran. Seketika hati Nadine melonjak kegirangan dan buru – buru ia keluar kamar hingga hampir menabrak Mutia adiknya yang baru saja bangun.  “ Mutia cepat ambil beras segenggam lalu kita sebar di halaman supaya burung – burung itu dating kemari!” katanya pada Mutia. 

Mutia segera ke dapur, ia mengambil segenggam beras dari tempat biasa Bunda menyimpan beras. Nadine dan Mutia menebarkan beras itu dibawah tempat jemuran, sayangnya burung – burung tersebut bukannya mendekat malah terbang menjauh, Nadine ingin membuat suasana seperti ketika ia berada di Bandung. Kelak kalau pohon srikaya yang ada di pojok halaman itu tumbuh besar, dahannya ingin ia gantungi keranjang plastic kecil lalu ia akan isi biji – bijian. 

Om Tomi dari Semarang berjanji akan memberi Nadine burung parkit dan kutilang, Nadine berencana meminta Pak Udin tukang kayu untuk membuatkan rumah-rumahan kecil lengkap dengan pintu dan jendela kecil bukan sangkar. Agar burung – burung itu bisa bebas keluar masuk rumah kecilnya dan hinggap di dahan pohon srikaya lalu mematuki biji – bijian yang disediakan. Bahkan burung lain yang biasanya hinggap pun bisa ikut memakan biji – bijian itu, oh alangkah asiknya bila ia terbangun oleh suara burung dan dapat menatap keriuhan mereka di balik jendela kamarnya anggan Nadine.

“Nadine, ayo cepat mandi lalu minum susu. Sudah siang loh! Sebentar lagi mobil jemputan dating nanti kau bisa terlambat sekolah!” seru Bunda membuyarkan lamunan Nadine. Nadine bergegas ke kamar mandi sambal tersenyum, ia sudah tak sabar ingin menjalankan rencananya.

Rabu, 12 September 2018

REVIEW NOVEL TENTANG KAMU TERE LIYE


Identitas Buku

Judul Buku : Tentang Kamu
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika Penerbit
Kota Terbit : Jakarta
Tahun Terbit : 2017 (Cetakan X)
Jumlah Halaman : vi + 524 halaman
ISBN : 978-602-0822-34-1
Genre : Historical Fiction

Doc pribadi

BLURB :
Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu,
itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku.
 Cinta memang tidak perlu ditemukan,
cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali,
aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir,
tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi.
Semua akan berlalu. Seperti sungai yang mengalir.
Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

SINOPSIS :
Novel “Tentang Kamu” memiliki tokoh utama dengan nama yang unik, Zaman. Lengkapnya Zaman Zulkarnaen. Zaman adalah seorang lulusan master hukum di Oxford University. Ia bekerja sebagai associate di firma hukum Thompson & Co., firma hukum  di bidang Elder Law yang menjadi legendaris karena prinsip serta komitmen yang dipegangnya.

Hingga suatu hari, ia dipanggil oleh atasannya untuk menuntaskan sebuah kasus dari kliennya. Kasus ini merupakan permasalahan harta warisan yang ditinggalkan oleh kliennya yang baru saja meninggal. Usut punya usut, harta warisan yang ditinggalkan oleh kliennya ini jumlahnya begitu besar yaitu 1% saham perusahaan besar yang dalam kurs poundsterling senilai satu miliar poundsterling atau dalam kurs rupiah setara dengan 19 triliun rupiah.  Dan ternyata, kliennya ini bernama Sri Ningsih berkewarganegaraan dengan Zaman yaitu Indonesia.

Sayangnya, data diri Sri Ningsih begitu sulit untuk ditemukan. Bahkan surat wasiatnya pun tidak ada. Sehingga sulit untuk mencari siapa ahli pewarisnya yang berhak menerima warisannya. Sri Ningsih hanya meninggalkan sedikit barang, dan yang bisa membantu Zaman menuntaskan kasus Sri Ningsih hanyalah sebuah diari yang ditulis oleh tangan Sri Ningsih sendiri diberikan oleh Aimee pengurus panti yang mendapat kepercayaan dari Sri Ningsih untuk menghubungi kantor pengacara apabila dia meninggal dan menyimpan diary Sri Ningsih sebelum ia kehilangan kesadaran.

Diary yang menjadi kompas bagi Zaman untuk melangkah, diary tersebut berisi 5 bagian. Sri menuliskan bagian ini dengan kata juz. Juz pertama tentang kesabaran. Di sini kita akan menyaksikan masa kecil Sri Ningsih yang penuh dengan keharuan yang dimulai 1946 sampai 1960. Zaman akan mulai menjelajahi Pulau Bungi yang ada di Sumbawa. Tidak jauh dengan kata pantai, perahu dan ikan.  

Peristiwa besar yang akan menguji kesabaran pembaca akan terasa pada bagian ini. Juz kedua adalah persabatan. Melalui rangkaian kisah yang panjang bermula pada 1961-1966 kita akan merasakan persahabatan indah yang berubah hanya karena kedengkian yang begitu dalam. Kisah Sri pada tahun ini akan mengajak kita merasakan gejolak politik Indonesia pada masa itu dari partai komunis.

Juz ketiga adalah keteguhan hati. Kisah yang berlangsung pada 1967-1979 akan membuat kita termotivasi dengan semangat yang digambarkan Ningsih. Di sinilah kita akan melihat sejarah Jakarta tempoe doeloe seperti monas yang dikelilingi rumput-rumput, kerbau-kerbau yang berseliweran, ungkapan pedagang kaki lima, sewa kost 200 rupiah, dll. Mana pas bagian ini disinggung-singgung pula yang namanya ojek online,hehe. Nah, keteguhan hati Ningsih akan ditempa disini, karena disini ia akan belajar berbisnis hingga akhirnya memiliki perusahaan. Hingga akhirnya terjawab pertanyaan mengapa ia memiliki 1% saham perusahaan besar

Juz keempat adalah Cinta, “Mencintaimu telah memberikanku keberanian, dan dicintai olehmu begitu dalam telah memberikanku kekuatan. Terima kasih. Aku tidak akan menangis sedih karena semua berakhir, aku akan tersenyum karena semua hal itu pernah terjadi.” Saat ini kita diajak melihat sisi lain dari sosok Sri sebelumnya. Kisah cinta Sri dengan seorang pria keturunan Turki bernama Hakan akan membangkitkan rasa yang sangat campur aduk bagi pembacanya. Rasa suka-duka, haru serta tawa akan menghiasi kisah yang berlangsung pada 1980-1999 di London. Sederhana tapi manis sekali.

Juz terakhir novel ini mengisahkan tentang memeluk semua rasa sakit. Sri akhirnya bisa menerima dengan lapang segala kejadian yang menimpa dirinya. Diceritakan bagaiamana Sri dari Londo tiba-tiba ke Paris dan akhirnya meninggal di Panti Jompo. Dan di beberapa bagian diceritakan selintas masa lalu seorang Zaman yang penuh dengan kepedihan, ia ingin belajar seperti Sri Ningsih untuk berdamai dengan siapa pun tetapi ternyata ia tidak bisa untuk kasusnya.

REVIEW :
Novel karya ke 28 dari 33 yang ditulis oleh Tere Liye ini menggunakan alur maju mundur artinya dalam cerita terjadi flashback ke masa lalu dan kejadian masa datang. Dimana perjalanan Zaman yang menelusuri potongan-potongan cerita hidup Sri Ningsih dari masa kecil hingga akhir hayatnya demi menemukan ahli waris dari harta yang ditinggalkannya. Banyak tema di bahas dalam buku ini sehingga dekat dengan pembaca. Kita bisa memposisikan dirinya sebagai tokoh utama yang jatuh cinta, yang hidupnya penuh ujian dan menempatkan diri juga sebagai tokoh dalam karya tersebut. karena karakter-karakter tokoh di novel ini terasa nyata.
Novel Tentang Kamu menggunakan sudut pandang orang ketiga. Biasanya memang sudut pandang orang pertama yang lebih bisa mendapati ‘feel’nya. Tapi, sekali lagi, inilah Tere Liye, penulis yang sangat piawai dalam merangkai tulisan-tulisannya. Walaupun memakai sudut pandang orang ketiga, pembaca tetap bisa mendapati feel yang mendalam. Karena Tere Liye menuliskannya dengan penjabaran yang sangat detail.

KELEBIHAN
1.      Secara plot memang tidak bisa diragukan lagi ya, Tere Liye ini memang jagonya membuat cerita yang plot twist. Di setiap babnya benar-benar kejutan banget. Setiap berhasil mengupas satu persatu sejarah Sri Ningsih, pasti ada saja yang membuat geregetan banget. Terus aku menemukan keterkaitan novel ini dengan novel Rindu, di bagian  plot awal kehidupan Sri Ningsih.
2.      Seperti yang sudah aku paparkan di Kilas Balik Cerita, bahwa perjalanan Zaman meliputi tiga Negara. Selama ini Tere Liye jarang menggunakan latar tempat di luar negeri, dan kali ini beliau membuktikannya bahwa beliau juga bisa menggambarkan latar luar negeri dengan baik. Tere Liye juga mengangkat latar Indonesia dengan baik.
3.      Pada umumnya di bagian epilog dan ending membaca novel Tere Liye suka greget gimana dan menebak apakah novel ini akan ada sesi berikutnya. Tapi entah mengapa sama novel ini puas banget sama bagian epilog hahaha
4.      Tere Liye dalam novel Tentang Kamu ini tidak hanya sekadar menghibur pembacanya, namun juga mengajarkan para pembacanya tentang kehidupan tanpa terkesan menggurui. Nasihat-nasihat kehidupannya sangat memotivasi. Kejutan-kejutan di dalam plot ceritanya berhasil membuatku tercengang-cengang. Padahal sudah lama menjadi penggemar tulisannya Bang Tere Liye, tapi masih aja tercengang-cengang. Aku nggak menyangka sama sekali, bahwa akan ada bagian actionnya, walaupun cuma sedikit dan terselip beberapa komedi.



KEKURANGAN
1.      Penjelasan tentang keluarnya Sulastri dan selamatnya Tilamuta tidak diceritakan dengan jelas. Sehingga pembaca seperti kehilangan sebagian cerita yang seharusnya diketahui.
2.      Bagi yang menyukai novel dengan alur ringan tanpa istilah dan bidang yang rumit mungkin kurang cocok membaca novel karya Tere Liye karena akan merasa jemu ketika muncul plot penjelasan terhadap ilmu seperti halnya novel Tentang Kamu yang banyak membahas istilah hukum
3.      Ada beberapa kesalahan dan ketidak singkronan penulisan pada setiap plot walaupun tertutupi oleh kisahnya yang cukup membuat baper

PELAJARAN MORAL
1.      Selain literasi, penulis juga menyelipkan jiwa entrepeneur dalam diri Sri yaitu
a)      dia berdagang nasi goreng tidak seperti pedagang pada umumnya
b)      cara berdagangnya mulai ditiru banyak pedagang lain, Sri memulai usaha baru
c)      Sri mengalami musibah dan harus memulainya dari nol lagi
Ada beberapa hal yang bisa kita tiru dari Sri bahwa untuk menjadi seorang entrepeneur harus melakukan beberapa hal; jangan berpikir instan, jangan berpikir gratisan, siap dan berani gagal. Dan yang terpenting adalah selalu terus melakukan inovasi tiada henti. Itulah kunci sukses seorang entrepreneur.
2.      Kunci Zaman dalam penelusuran informasi mencari tahu kehidupan Sri, tanpa disadari pembaca, penulis menyelipkan melalui beberapa kegiatan literasi, yaitu :
a)       Tekun membaca,
Sri Ningsih belajar tentang hukum melalui buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan nasional Prancis
b)      Memiliki sebuah buku diary
Tidak hanya berupa tulisan, ada beberapa potong foto yang terselip dalam diary tersebut
c)       Gemar berkorespondensi sebagai jalan untuk berkomunikasi dengan sahabatnya ketika di madrasah, Nur’aini. Di tahun 1970-an, cara paling ampuh berkomunikasi adalah melalui surat menyurat
3.      Ada banyak pesan moral yang bisa kita ambil dalam buku ini. Pertama, tentang kesabaran. Kedua, tentang persahabatan. Ketiga, tentang keteguhan hati. Keempat, tentang cinta. Kelima, tentang memeluk semua rasa sakit. Semoga dalam menjalani kehidupan kita bisa seperti Sri, hatinya sebening kristal, tidak ada rasa dendam dalam jiwanya meskipun itu hanya sebesar debu

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:
1.      Kesabaran bisa mengalahkan apa pun. (hlm. 111)
2.      Kita seharusnya lebih banyak bicara satu sama lain agar bisa melewati masa-masa sulit bersama. (hlm. 136)
3.      Aku ingin sekali punya hati sebaikmu. Tidak pernah punya prasangka walau sebesar debu. (hlm. 179)
4.      Saat kita sudah melakukan yang terbaik dan tetap gagal, apa lagi yang harus kita lakukan? (hlm. 209)
5.      Jika kita gagal 1000x, maka pastikan kita bangkit 1001x. (hlm. 210)
6.      Sejatinya, banyak momen berharga dalam hidup datang dari hal-hal kecil yang luput kita perhatikan, karena kita terlalu sibuk mengurus sebaliknya. (hlm. 257)
7.      Hantu masa lalu itu kapan pun bisa muncul lagi. Tidak ada yang benar-benar bisa kita lupakan, karena saat kita lupa, masih ada sisi-sisi yang mengingatnya. (hlm. 270)
8.      Dicintai begitu dalam oleh orang lain akan memberikan kita kekuatan, sementara mencintai orang lain dengan sungguh-sungguh akan memberikan kita keberanian. (hlm. 286)
9.      Sekarang bukan siapa-siapa, tapi besok lusa kita tidak tahu, kan? (hlm. 345)
10.  Daripada kita sibuk bertanya kapan seorang gadis menikah, hanya membuatnya sedih, lebih baik bantu dia agar segera mendapatkan jodohnya. Itu lebih bermanfaat. (hlm. 357)
11.  Biarkan semuanya mengalir seperti air. (hlm. 360)
12.  Jika memang berjodoh, maka berjodohlah. Tidak perlu terlalu berharap, tapi tidak juga sangat negatif menanggapinya. (hlm. 360)
13.  Apa yang membuat pernikahan orang tua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apa pun, ujian seberat apa pun bisa dilewati dengan baik. (hlm. 385)
14.  Hati manusia persis seperti lautan, penuh misteri. Kita tidak pernah tahu kejadian menyakitkan apa yang telah dilewati oleh seseorang. (hlm. 415)

 Sumber : FP Tere Liye