Rabu, 29 April 2020

NONGKRONG ONLINE SELAMA COVID-19

Dibeberapa tes psikolog baik yang legal ataupun ala-ala internet saya terduga sebagai anak introvet, suka kaget juga sih tapi begitu baca penjelasannya memang benar sih bahkan sekelas untuk cerita hal yang personal sekalipun dikorek pasti tidak segitu mudahnya untuk menyampaikan isi hati dan kecenderungan anti sosial. Masa pandemik ini banyak yang bilang bersyukurlah jadi anak intovet pasti akan jadi sebuah situasi kenyamanan untuk diam dirumah, bekerja dirumah dan pembatasan kepentingan keluar rumah. Ternyata kenyataannya tidak seperti itu saudara-saudara, anak introvet macam diriku aja sudah gerah, bosan dan gatal ingin sekedar nongkrong sekejap tanpa perlu dimasker, ribet bawa proteksi diri dan bisa leha-leha kalau sudah dirumah tanpa buru-buru ganti baju dan mandi keramas. Mohon maaf ya bukan bermaksud untuk mengeluh tapi sekedar sebuah spam emosi sedetik saja.

Di tengah wabah pandemik Covid-19 yang membuat para karyawan kantor terpaksa bekerja dari rumah, popularitas aplikasi video conferencing untuk tatap muka dari jauh meroket. Mengingat suami adalah orang IT yang punya akses sebagai admin di aplikasi cisco, jadi ketika kosong tanpa meeting tercetuslah untuk melakukan nongkrong online atau gayanya bahasa sekarang nongkrong virtual dengan teman seperjuangan kami di pramuka kampus, FYI kami menikah karena bertemu atau cinlok ketika mengikuti UKM Pramuka UPI Bandung (scrol-scrol blog sebelumnya ya sering ku sisipkan cerita cintaku). Nongkrong online ini terjadi di hari Selasa tanggal 14 April 2020. Kenapa ga pakai zoom seperti pada umunya? Jauh sebelum berita jebol data dan di hack kalau pakai aplikasi zoom, suami memang selalu menyarankan untuk tidak pakai aplikasi tsb kecuali bila terpaksa pun dengan segala proteksinya agar data kita aman. 

Selama nongkrong online memang tidak seperti ketika kita nongkrong yang berhadapan langsung, beda sekali keterbatasan sinyal bahkan aplikasi conferencing kalau dicari sumber informasinya memang nyata adanya sangat menyedot kuota untungnya dirumah pakai wifi jadi ga segondok yang pakai kuota lah. Tentu sebagian besar atau bahkan semua setuju selama covid ini pengeluaran kuota dan pemakaian smartphone bagaikan kebutuhan pokok disamping nafsu makan yang berlebih.

Inilah nongkrong onlineku diluar kebutuhan pekerjaan bersama teman-teman masa kejayaan kuliah, FYI orang-orang ini Alhamdulillah masih pada hidup dengan segala aktivitasnya padahal dahulu perut-perutnya jadi saksi segala macam percobaan makanan yang saya buat, entah efek kepepet daripada tidak ada yang dimakan mungkin hahaha.


doc pribadi (hasil sreenshoot dari PC)

Saran agar nyaman menggunakan aplikasi conferencing baiknya menggunakan laptop saja agar aman dari jebol data dan tangan-tangan jahil. Pastikan sinyal mendukung, aplikasi ini bisa terlihat sekali kalau tidak ada sinyal pasti luplep dan tentunya paket data harus cukup agar setelah nongkrong online ga gigit jadi karena tidak punya kuota buat menemani rebahan.

Kalau tidak bisa untuk nongkrong melalui aplikasi conferencing maka ada hal sederhana seperti chat-chat memalui sosmed yang rutin dan menyamankan tidak sebar-sebar berita yang belum tentu kebenerannya. Yang suka saya lakukan yaitu whatsapp grup voice call, bahkan rekor terlama di masa pandemik ini saya bisa habiskan selama 3 jam. Ngobrol apa aja? Apapun, inilah yang disebut pertemanan ketika bisa mengobrol lama-lama berarti persahabatannya solid. Kami bertemu di suatu tempat yang akhirnya saya resign di tempat itu, katanya kalau kita keluar dari dunia kerja pertemanannya hanya kepentingan profesional dan ketika keluar tidak akan punya persahabatan. Mungkin iya tapi Alhamdulillah saya masih komunikasi dengan tiga orang ini dan teman-teman lain yang bisa rutin untuk nongkrong dengan rutin dan obrolan ga cuma gibahan aja tapi obrolan sharing personal.

doc pribadi hasil SC dari hape

Selalu ada berbagai cara membuat kita selalu bahagia sekalipun kondisi sekarang amatlah membuat mental tidak waras.

NYAMAN SELAMA WORK FROM HOME SELAMA COVID-19

Selama masa covid-19 yang menghimbau kita untuk WFH selain pekerjaan yang memang diharuskan untuk tetap keluar rumah salama pandemik. Bagi orang yang terbiasa berinteraksi dengan orang lain, bekerja dengan nuansa kantor tiba-tiba dirumah dalam jangka waktu yang lama tentulah jadi sebuah masalah bisa menjadi tidak waras secara mental padahal kewarasan mental menjadi sebuah keharusan agar imun selalu terjaga.

Itupun yang terjadi terhadap suami, awal-awal perlu penyesuaian dengan pola WFH (pekerjaan sebagai guru produktif informatika), dimana mainset rumah adalah tempat beristirahat yang kalau ga kepepet ga akan mengurusi pekerjaan. 

Sebagai seorang istri tentu perlu ikut membantu menyamankan suasana bekerja agar tetap produktif. Fase pertama beliau bekerja di depan ruang TV dengan posisi duduk di kursi lalu karena lelah akhirnya duduk dibawah lantai. 

Fase kedua akhirnya saya kasih bantal duduk agar nyaman tetapi permasalahan berikutnya kalau cape akhirnya tidur di kursi. Suka mengeluh sakit badan karena tidur di kursi yang bukan sofa gitu kan ya jadi wajar saja badan jadi sakit.

Fase ketiga tiba-tiba terlintas dalam pikiran kenapa ga sekalian simpen kasur single aja di tempat biasa dia bekerja dan ternyata suasana hatinya lebih baik. Lalu ada pertanyaan kenapa beliau tidak ada inisiatif dalam hal ini, memang secara kecenderungan beliau tidak banyak inisiatif dan rada pasrah sama keadaan jadi istrinya rada vokal urusan seperti ini. 

doc pribadi

Seperti tukang jaga warnet ya hihihi, tapi memang karena suami pekerjaannya di bidang IT jadi seperti itulah penampakan ruang kerjanya sekarang. Ada ruang kerja yang duduk di kursi tapi entah mengapa selama masa ini tidak tersentuh sama beliau mungkin kalau bosan dengan posisi rebahan santuy dia akan bekerja dengan posisi duduk.


doc pribadi

Karena istrinya juga sibuk utak atik dapur akibat nafsu makan main naik selama banyak diam dirumah jadi ada bonus yang menemani si makhluk lucu warna abu-abu dan bila beliau lelah di depan layar bisa dipakai rebahan. Siapa tau posisi nyaman ini bisa jadi referensi yang membaca dan mengatur tempat bekerja agar nyaman. Ketahuilah kita harus tetap waras dan nyaman di rumah agar imun tidak ngedrop. 

Jumat, 24 April 2020

PENTINGNYA PENAMPILAN SELAMA MASA COVID-19

Tulisan pertama saya di bloger perempuan ingin yang simpel-simpel saja mengingat menjalani kehidupan selama masa pandemik ini sudah bikin imun suka autodrop. Apalagi sudah banyak melewatkan tulisan dengan hutang-hutang yang tentunya akan kulunasi secara bertahap xixixixi.

Pernah ada di fase repot kalau mau pergi kemana-mana karena harus berpenampilan oke dan make up selalu on?

Hampir sebagian besar perempuan ketika keluar rumah tentu yang dipikirkan adalah penampilan minimal tidak terlihat sudah mandi sekalipun belum tentu. Ketika sebelum masa pandemik ada sebuah pepatah perempuan pada umumnya suka mengatakan, "Tidak apa-apa belum mandi yang penting jangan lupa pakai lipstik". Tentu pepatah ini tidak berlaku ketika masa pandemik ini dimana sekalipun masker dibuat selucu mungkin tentu tidak terlihat warna lipstik kita yang merona.

Jadi sekarang saya punya pepatah di penampilan perempuan sekarang, "Tidak apa-apa belum mandi yang penting riasan mata pastikan tidak terlihat kerutan dan mata panda" (mau pakai alis suka ga berani karena misua autoambilitisubasahsayyyyy.  Bagi saya perempuan berhijab, dengan keluar untuk kepentingan mendesak dan memang harus keluar terutama urusan perut yang perlu diwaraskan agar imun tetap baik, kerudung yang dipakai benar-benar dibuat senyaman mungkin dan simpel. Sudah tidak ada istilah hijab ala ala deh buat nyaman memakai masker aja udah bikin nafas berasa sesak, terutama ketika wilayah Bandung Raya kena aturan PSBB yang harus pakai masker kemana-mana (domisili tempat tinggal saya di Cimahi).

Ini beberapa tampilan penampilan saya pada saat keluar rumah 

Tampilan look hijab dan make up kalau keluar rada jauh seperti ambil uang ke ATM, belanja ke minimarket/supermarket atau lainnya dimana minimal sejam keluar dari rumah





Tampilan look hijab dan make up kalau keluar dekat seperti warung sayur, beli-beli yang sekitar rumah atau kunjung ke rumah tante yang di depan rumah




Sesuai dengan saran dan himbauan yang saya baca dan dengar dari beberapa artikel ketika kita pulang dari keluar rumah dan berinteraksi dengan orang, maka setelah pulang harus segera lepas alas kaki, seluruh pakaian diganti termasuk masker (selama masa pandemik ini saya menggunakan masker kain dengan berbagai tipe, pertama tidak mau ikut panik dengan mencari masker bedah dan memang aktvitas masih dalam taraf normal) dan mandi keramas. Peralatan tempur yang saya bawa ketika keluar rumah ada di tulisan http://simiati257.blogspot.com/2020/03/peralatan-tempur-ketika-keluar-di-masa.html

Menjaga penampilan tentu penting selama hampir sebulan dirumah jadi suka merasa baju tidur dan baju santai rumah lebih sedikit daripada pakaian keluar mungkin bisa nanti ketika pergi ke dapur harus memakai pakaian nongkrong dan seragam kerja (baju ngajar maksudnya) hahahahahaha. Jangan lupa make up yang sudah dibeli dan tidak pernah dipakai agar sesekali dipakai, karena bisa jadi dahulu kita ingin berpenampilan cantik untuk orang lain bukan untuk keluarga terutama suami. 


Minggu, 12 April 2020

JARAK MENJADI SEBUAH BARANG MEWAH


Sebagai anak yang jauh dr orang tua dan mertua kondisi sekarang adalah sebuah hal paling pelik yang dirasakan dimana himbauan pemerintah untuk tidak memperbolehkan mudik sebuah hal paling drama. Walau masih dalam satu provinsi tapi mudik dan mengunjungi orang tua tidak bisa dilakukan secara sering mengingat persiapan finansial pun amat perlu dipersiapkan.

Jarak menjadi sebuah hal yang amat mewah saat ini apalagi ketika orang tua sudah mulai menanyakan kabar dan meminta untuk diam saja di tempat orang tua. Ingin pulang sudah pasti karena di masa sekarang arti keluarga amat terasa sekali tapi rasa sayang untuk memutus rantai penyebaran amatlah penting.

Ini hanya sebuah coretan kelelahan akan pelik kehidupan yang sudah mulai membosankan, untuk tipe tertutup dan hidupnya senang rebahan saya pun sudah jengah dan ingin segera berakhir dan melalukan aktivitas seperti biasa. Saat ini yang tak mungkin merasa jadi manusia paling susah, dengan suka melihat sekitar bahkan untuk makan sekalipun harus gadai barang tentu jadi sebuah tamparan agar selalu bersyukur dan menikmati hidup

Minggu, 29 Maret 2020

PERALATAN TEMPUR KETIKA KELUAR DI MASA SOCIAL DISTANCING

Per tanggal 16 Maret 2020 pemerintah menghimbau untuk kita melakukan social distancing yang sepertinya tak perlu lah dijelaskan pengertian dan konsep semacam kuliah online wkwkwkwk. Himbauan yang bertujuan untuk beraktivitas di rumah demi mencegah dan memutus rantai penyebaran virus Corona (COVID-19). 

Ada kalanya ketika harus keluar demi sekedar beli bahan logistik rumah terutama makan karena asupan perut tidak bisa di lockdown konon kabarnya dan memang begitu. Berdasarkan pengalaman dua minggu saya keluar dalam jangka jarak dekat seperti rumah tante (karena depan rumah) demi menjaga silahturahmi serta berinteraksi selain dengan bapak suami (selama pacaran dan menikah rekor sekali untuk kami karena tidak pernah sampai 10 hari lebih bersama 24 jam karena ya kami adalah pasangan yang selalu berinteraksi dengan orang lain dan main keluar), belanja besar ke supermarket andalah ya Yogya Cimahi itu dilakukan seminggu sekali karena diriku tak bisa beli gila-gilaan mengingat pemasukan lumayan tidak sebanding dengan pengeluaran (setuju dong ya kalau selama diam dirumah pengeluaran jauh lebih besar) lalu bila kurang ku mengandalkan  warung sayur deket rumah seperti beli sayur dan lauk segar.

Kalau pergi ke Yogya ini deretan perlengkapan tempur ya tempur karena kita perlu menjaga diri sendiri agar selalu alright tentunya.


doc pribadi

Itulah deretan peralatan tempur yang ku bawa dalam tottebag terdiri dari
1. Masker 
2, Cairan disinfekta hasil bikin sendiri dari rebusan daun sirih, ini sebenernya banyak direferensi buat handsanitizer alami tapi kufungsikan untuk disinfekta darurat ketika keluar rumah
3. Handsanitize buatan sang sepupu Isma dan Iin
4. Tisu basah
5. Tisu kering
6. Air minum demi menjaga agar tidak dehidrasi 
7. Payung 
8. Aneka tote bag demi mengurangi penggunaan kresek 
9. Permen
10. Pouch yang di dalam berisi dompet duit dan dompet atm (ketahuilah semua dipersembahkan dari souvenir nikahan semua)
11. Catatan belanja agar mengurangi membeli yang tidak sesuai kebutuhan (walau suka ada khilafnya dengan beralasan ini kayanya butuh buat dirumah)
12. Hape tentunya biar tetap jadi anak online dan membuang kuota dengan benar mengingat diam dirumah pakainya wifi aja
Sebenernya peralatan-peralatan diatas bukan hanya ketika masa distancing saja kubawa karena sesungguhnya ketika ku pergi selalu bawa sebagain besar barang-barang diatas sampai disebut loba gegembol kalau istilah sunda, gatal aja gitu kalau cuma bawa dompet sama hape aja.

Dan ini penampakan ketika mau berangkat yang entah mengapa kadang masih suka dilihat aneh aja sama orang. Karena ku menyadari tubuhku amat ringkih dan punya imun kurang baik rentan sama penularan jadi lebih baik mencegah dan membatasi diri dalam kerumunan. 

PS : Iya tau ini yang dipakai masker kain karena masker yang dipunya amat terbatas dan belum urgen secara kesehatan jadi pakai yang bisa dicuci ulang. Karena ku keluar ketika merasa imun dalam kondisi kuat dan tidak memaksakan diri ketika merasa kurang sehat. Alhamdulillah tahun kemarin memutuskan keluar dari pekerjaan inti (panjang lah kalau diceritakan mungkin nanti kalau mau) dan pekerjaan banyak bersifat online sekalipun offline tidak sebanyak hari ketika dahulu itupun WFH jadi memang tidak ada aktivitas selain belanja yang harus memaksa diri untuk keluar. Nongkrong kan sedang tidak diperbolehkan dalam situasi sekarang ya kannnn.

doc pribadi

Hikmah yang amat disadari setelah kejadian ini jadi lebih banyak quality time dengan keluarga karena situasi sekarang membuktikan tempat terbaik adalah rumah dan keluarga. Terutama akhirnya kita bisa untuk menjalankan pola hidup sehat secara tidak langsung baik secara interaksi dan pola makan kita. Semoga situasi segera membaik dan virus-virus segera hilang agar bisa bercengkrama dalam interaksi sosial tanpa perlu membatasi diri dengan segala proteksi dan menjalankan Ramadhan seperti biasa sekalipun sudah ada himbauan untuk dilarang mudik huhuhu. Berikutnya akan kutuliskan saran menu selama masa social distancing bagi yang sudah mulai pusing mau masak apa lagi (doakan ga mager dan ga kebanyakan gabut hahahahahaha)

"Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian bahwa kekuasaan seorang Presiden sekalipun ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanya kekuasaan rakyat. Dan diatas segalanya adalah Kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa."
-SOEKARNO-


Minggu, 15 Maret 2020

REVIEW NOVEL HELEN DAN SUKANTA




Judul Buku : Helen dan Sukanta
Penulis : Pidi Baiq
Penyunting naskah :Fuad J
Ilustrasi buku : Pidi Baiq
Desain buku : M Kurnia FN
Proofreader : Febti Sribagusdadi R
Setter : The Panasdalam Desain
Cetakan pertama Oktober 2019
ISBN : 978-623-92083-0-1
Penerbit : The Panasdalam Publishing
Distribusi : Mizan Media Utama



BLURB :

Di restoran Indonesia Lachende Javaan, Haarle, Belanda, tahun 2000, Nyonya Helen bercerita kepada saya tentang masa lalunya selama dia tinggal di Hindia Belanda, yang kini bernama Indonesia.

"Saya lahir dan tumbuh di Ciwidey. Masa remaja saya, saya habiskan di Bandung, sampai kemudian Jepang datang pada tahun 1942 dan mengubah semuanya."

Nyonya Helen kemudian menceritakan juga kisah asmara yang dia jalin bersama Sukanta, seorang pribumi. "Firasat saya benar, saya menyukai Sukanta. Itulah yang saya rasakan.

Harus ada yang mengerti bagaimana Nyonya Helen merasakan semua kenangannya. Tidak ada yang tahu sudah berapa banyak rindu menguasai dirinya sejak dia mengucapkan selamat tinggal kepada Indonesia.

" Nah, sekarang, diamlah. Ini cerita saya, dan semua benar-benar terjadi."


SINOPSIS

Lihat dari judulnya, kita sudah bisa menebak bahwa ini tentang roman apalagi ketika membaca blurbnya.  Kisah tentang  dua insan manusia berbeda bangsa dan kasta yaitu Helen dan Sukanta. Walaupun latar ceritanya di masa Indonesia sebelum merdeka. Tenang saja, ini bukan kisah klasik kasih tak sampai, seperti umumnya roman angkatan 1920, 1930 dll. Hanya saja ceritanya berbeda dengan gaya penulisan khas dari pidi baiq.

Helen Maria Eleonora, lahir awal tahun 1924 di Kawasan Tjiwidei (Ciwidey). Seorang keturunan Belanda, namun mencintai Indonesia. Suatu hari, keponakan dari salah satu pegawai Papa-nya berada di rumahnya untuk membantu pamannya. Tak disangka, setelah saling mengamati, lama-lama Helen berteman dengan Sukanta, seorang pribumi yang biasa dipanggil Ukan. Pertemanan yang awalnya biasa saja. Namun suatu hari saudara Papanya yang berkunjung dan sempat tinggal di rumah Helen, tidak menyukai kehadiran Ukan. Papanya Helen pun terpengaruh dan berusaha memisahkan Helen dengan Ukan.

Ukan berhasil disingkirkan dari kampung dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi. Helen tentu saja sangat bersedih. Hingga akhirnya memutuskan untuk pindah sekolah ke Bandung ditemani dengan pegawai setianya yang sejak kecil telah mengurusnya, Siti. Tidak lama setelah Ukan menghilang dari kampungnya, ibunya Ukan meninggal. Helen sangat bersedih. Di Bandung, dia punya teman baru. Bahkan ada beberapa teman pria Belanda yang menyukainya, pernah dekat. Bahkan saat itu ada seseorang yang sangat menyukai Helen datang ke rumahnya, namun dari balik semak  ada seseorang yang mengawasi mereka. Ternyata dia adalah Ukan. Sejak saat itu, Helen dan Ukan seolah tak terpisahkan. Papa dan Mamanya Helen pun merestui hubungan Helen dan Ukan, dan juga hadir di pernikahan anak semata wayangnya. Pernikahan yang sederhana, namun mereka sangat bahagia.

Sayangnya, tak lama setelah mereka menikah, sebuah peristiwa besar di mana  Jepang datang menguasai Indonesia, membuat  banyak warga negara Belanda yang dipulangkan, termasuk Helen. Saat itu, Helen sedang mengandung anak pertamanya. Akankah Helen dan Ukan bisa bertemu kembali? Apakah Ukan pernah mencari Helen? Bagaimana nasib kandungan Helen? Akankah Helen bisa melupakan Ukan setelah berpisah benua? Bagaimana akhir kisah Helen dan Ukan?


PENDAPAT SECARA UMUM

Cinta Helen dan Sukanta, terasa sangat manis. Meski ditimpa kenyataan pahit bahwa noni Belanda 'dilarang' berhubungan dengan pribumi. Bahkan saking manisnya, saya tidak merasa bahwa saat itu orang-orang Belanda begitu menyebalkan, karena menganggap rendah bangsa kita. Menjadikan orang pribumi babu di rumahnya sendiri.

Helen menjadikan saya menyayangi nona Belanda yang lembut, anggun, dan cantik ini. Nona Belanda yang mencintai Sukanta, sang pribumi rendahan dengan tulus dan setia. Meski mendapat penolakan keras pada awalnya. Jangan dibayangkan karakter helen sama seperti gambaran milea dan ukan seperti dilan ini jauh sekali. Sekedar informasi novel ini sudah jauh duluan hanya perampungan lama mengingat pidi baiq amat detail pada setiap plot tempat dan situasi sama seperti kondisi tahun 1930-1950 an. Tapi kebaperan kalau kita baca novel ini sama persis karena quote yang bikin baper parah.

Saya kira hubungan yang terlarang ini akan berakhir dengan perpisahan gitu aja. Ternyata, takdir menulis cerita roman Helen - Sukanta dengan begitu indah. Sebelum perang dunia kedua pecah. Dua sejoli ini berhasil membuktikan pada dunia bahwa mereka bisa bersatu. Menikah, bahagia, bahkan hingga sang calon bayi akhirnya hadir di tengah-tengah mereka.

Saya salah untuk kedua kali, saya kira akhir cerita ini akan bahagia. Tapi sayang, ini bukan novel fiksi, yang ujungnya bisa diatur penulis semaunya sendiri. Tetapi ini kisah nyata. Fakta bahwa Belanda berhasil dipukul mundur Jepang pada perang memperebutkan kekuasaan atas Indonesia memisahkan semuanya.

Kenyataan bahwa Belanda harus terusir dari Negara Indonesia menjadi ujung dari kisah cinta Helen dan Sukanta. Mungkin saat itu, di tahun 1945 Indonesia meneriakan kemerdekaannya. Pahlawan kita merayakan kebebasan. Tapi di sisi lain, Helen sang nona Belanda menjerit. Hingga menyalahkan Tuhan yang menulis takdirnya begitu pahit.

Kehilangan suami tercinta yang tidak pernah tahu nasibnya, kehilangan calon bayi yang dikandungnya, kehilangan orangtua yang tak tahu kabarnya.

Hingga halaman terakhir novel ini, saya masih belum bisa percaya. Oma Helen yang kembali ke Belanda, tidak menikah lagi hingga akhir hidupnya, setia pada cinta sejatinya untuk Sukanta. Membaca dialog:

"Sampai sekarang, tidak pernah ada kabar tentang Ukan?"
"Aku selalu menunggu"
"Di Belanda, Oma tidak menikah lagi?"
"Aku setia pada masa laluku"
-361-

Darah saya berdesir kuat, merinding, tak terasa saya menangis, cinta sejati itu ternyata benar-benar ada.

Yang menarik dari novel ini:

1. Sensasi membaca novel ini rasanya antik klasik-lah, kisah klasik masa sebelum merdeka yang ditulis dan rilis di zaman sekarang, tetap menyenangkan untuk di baca.
2. Lihat cover-nya saja, dimata saya terlihat klasik.
3. Lewat novel ini, saya seakan diajak mengenal Ciwidey di masa  belum merdeka. Keindahan alamanya, suasananya, sepertinya melekat sampai sekarang. Bukankah begitu banyak tempat wisata alam yang bisa dikunjungi di daerah tersebut? Sebut saja Kawah Putih yang sangat eksotis di daerah ini. Cerita yang berlatar belakang Indonesia sebelum merdeka di daerah Bandung dan diangkat dari kisah nyata seorang wanita Belanda dan ditulis oleh Pidi Baiq ini sangat menarik. Dengan gaya khasnya Pidi Baiq yang sudah dikenal dengan karyanya Dilan dan sudah diangkat ke layar lebar, membuat novel terbaru karya Pidi Baiq ini tetap layak dinikmati.
4. Saya juga suka, meskipun Helen sangat berpendidikan dan tentu saja didikan orang Belanda, tapi tidak sombong dan sangat merakyat di zaman itu, bahkan ia mau belajar bahasa kesehariannya Ukan di kampungnya. Beberapa penggalan kata dalam bahasa Sunda yang diucapkan Helen membuat percakapannya terasa lucu dan seru. Ukan juga bisa berbahasa Belanda.

Beberapa quote novel yang diambil dari mbah google tercinta






Minggu, 23 Februari 2020

HIDUP BAGAIKAN PERJALANAN kERETA API





Perjalanan hidup seperti  kereta api pun penuh dengan sukacita, dukacita, imajinasi, harapan, dan juga diwarnai dengan ucapan pamit dan perpisahan

Maka ada baiknya kita haruslah menjadi "penumpang" yang baik, dengan cara mengasihi, memaafkan, dan memberi yang terbaik yang bisa dilakukan pada penumpang yang lain

Ketika tiba saatnya bagi kita untuk turun di stasiun yang kita tuju dan meninggalkan kursi, sebisa mungkin kita meninggalkan kenangan-kenangan indah bagi mereka yang akan terus melanjutkan perjalanannya. Seperti meninggalkan gesture tanpa perlu berucap berterima kasih kepada teman-teman, karena telah menjadi salah satu penumpang dalam kereta api “kehidupan kita”.

Aku berusaha membuang dan mengobati diriku pada semua bagian sedih dan menyakitkan antara kita ketika masih dalam satu ruang dan dimensi yang sama dalam jangka waktu rutin.

Aku berusaha hanya menyisakan semua bagian yang indah saja. Agar suatu hari bila nanti Allah mengizinkan kita untuk berkumpul kembali entah akan selengkap ini atau sebagian. Entah sering ataupun seperti hubungan LDR.

Itulah mengapa pamit tak ingin terucap agar kita masih bisa tersenyum dan menertawakan kesedihan di masa lampau.

Banyak yang mengatakan bahwa rahasia terbesar dalam hidup ini yaitu ketika kita melewati hari dengan penuh makna. Makna tentang cinta, ilmu, dan keimanan. Dengan cinta hidup menjadi indah dan hati bahagia. Dengan ilmu hidup menjadi mudah memaknai segala hal. Dan dengan keimanan hidup menjadi terarah dan pengingat untuk menjadi pribadi lebih baik.

Mari kita mulai saat ini, belajar untuk tetap mampu menikmati dan mensyukuri setiap tahapan perjalanan kehidupan.

Terima kasih untuk semua tahapan dalam perjalanan hidup yang membuat hari ini saya bisa tersenyum melihat masa lalu seperti pidi baiq bilang dalam novel Helen dan Sukanta, "Mudah-mudahan menjadi bijaksana, untuk tidak mengadili masa lalu dengan keadaan di masa kini."


Love regard
Rapunzel cimahi

*tulisan berdasarkan gabungan beberapa feed instagtam pribadi*

Minggu, 26 Januari 2020

SAKOCI (SABA KOTA CIMAHI)

Akhirnya sebagai orang lahir di cimahi dan sekarang berdomisili di cimahi (KTP Sumedang karena manut suami aja urusan administrasi mah) bisa menyempatkan waktu naik SAKOCI alias saba kota cimahi. Melewati Alun-alun kota Cimahi, Jalan Amir Mahmud, Jalan Gatot Subroto, Jalan Poncol, Jalan Baros, Jalan Haji Haris, Jalan HMS Mintaredja, Jalan Kerkof dan berakhir di Kampung Adat Cireundeu untuk beristirahat sejenak (dalam tulisan ini tidak akan diceritakan secara detail biar ga spoiler dan jadi penasaran yang baca jadi ingin mencoba). Apalagi ketika sampai di Kampung Adat Cireudeu semacam ajang nostalgia dimana tahun 2010 pernah kesana demi mendapat nilai salah satu mata kuliah dengan observasi ke kampung adat, tidak sampai masuk ke dalam karena pasti perlu izin khusus dan waktunya tidak akan sebentar untuk mengenal lebih dalam bagaimana budaya disana.

Doc pribadi


Selain bonus dapat ilmu tentang sejarah dan segala keunikan kota cimahi tentunya setiap laju sepanjang jalan semua mata tertuju padamu. Dengan segala keunikan transportasinya itu bikin mata ga sanggup untuk tidak menengok.Kalau tidak percaya cobalah sebagai penumpang dan penonton pasti akan menemukan sensasi berbeda. 

Doc Pribadi


Kalau ingin mencoba jangan lupa perhatikan waktu-waktunya karena hanya di 4 waktu yaitu : 08.00, 10.00, 13.00 dan 15.00 dengan karcis hanya 20.000. Tapi tidak disarankan naik pada saat hujan. Paham ya kalau sudah lihat fotonya. Dimana naiknya? Alun-alun kota cimahi depan puskesmas atau mungkin yang ingat ramayana cimahi ga jauh dr sana. Ada loket tiket untuk bisa langsung beli tiketnya atau bisa ketika naik kita bayar ke pemandunya.

Doc. Pribadi


Dan setelah ratusan purnama ku baru tahu dari aa pemandu bahwa tinggal di california bukan jalan kalidam maybe yang mau main ke cimahi jangan lupa urus visa dan bawa paspor ya #bercandareceh. Sebuah perjalanan yang menyenangkan apalagi bersama keluarga jadi tidak merasa dosa pernah naik Bandros tetapi belum pernah naik SAKOCI. 

Doc Pribadi


Tulisan ini pernah di publis di instagram dengan perubahan seperlunya https://www.instagram.com/p/B7f8vSSHHyN/?igshid=1s2tzyny6nx2c

Yuk coba naik SAKOCI atau kalau yang ke Bandung minimal 

Minggu, 22 Desember 2019

KEKUATAN MECIN PADA KEHIDUPAN DAPUR MIA

Mengutip dari tribuntravel.com Micin alias monosodium glutamat (MSG) adalah penambah rasa yang biasa ditambahkan ke dalam makanan.

Akan tetapi, dari sekian banyak riset dilakukan sejak muncul kabar MSG berbahaya bagi kesehatan, juga bisa menyebabkan kebodohan, tidak ada yang bisa menemukan bukti pasti adanya hubungan antara MSG dan gejala-gejala tersebut.



Pada setiap dapur pastilah ada bumbu penyedap rasa atau segala sesuatu yang sifatnya micin. Inipun yang terjadi kepada saya terutama setelah berumah tangga. Sebuah aktivitas masak yang memakai bumbu-bumbu dan tepung instan merupakan kekuatan micin dalam rumah tangga.

Ini bukanlah sebuah panduan yang harfiah hanya sebuah sharing singkat di kehidupan dapur seorang mia. Mudah-mudahan yang menganggap masak adalah sebuah aktivitas yang ribet dengan baca ini mau memulai masak yang simpel dan tentunya pasti enak karena tidak ada micin yang tak enak pastinya

1. Sambal instan


Bukan berarti harus sesuai merk ya tapi bisa pakai jenis sambal lainnya. Dari sambal instan ini menjadi sebuah masakan : nasi goreng, mie goreng, bihun goreng, tumisan (kalau malas potong2 bawang) dan tentunya sebagai cocolan lauk

2. Sup instan

Sebuah masakan tanpa sayur tidaklah lengkap tanpa semangkok sayur untuk sebagian orang mengingat kebutuhan serat perlu dipenuhi pada tubuh. Ribet pasti adegan potong-potong sayur itu dan segala kaldu agar ketika disendokkan kuahnya berasa gurih dan enak. Pakailah salah satu jenis sayur instan ini ditambah telur puyuh, jenis sayuran (bergantung selera kalau saya pakai brokoli, wortel) bahkan bisa ditambahkan baso (beli ke tukang baso minta kuah rada banyak biar sekalian buat kaldu). Ketika masak ini saya selalu mengatakan sayur sup micin ala mia 

3. Tepung instan
Mau bikin bala-bala/bakwan/gorengan ribet sama iris-iris dan ulek-ulek bumbu?
Tak usah repot ada ini dan merk lain sebagai solusinya. Kalau cuma dipakai tepung bakwan aja bikin hasil gorengan basah jadi tambahkanlah bumbu tepung ayam biar lebih krispy. Tambahkan gula dan daun bawang seledri biar ga terlalu micin banget.

Ini beberapa kekuatan micin pada dapur mia, mungkin kalau ga malas nanti ada tulisan berikutnya beserta resep di setiap masakan instan ini tapi nanti lah ya 

Selamat berkreasi dan jangan takut gagal karena masak bukan kemampuan tahu bulat yang langsung perlu diasah dan dipraktekan agar menemukan enaknya masakan bisa dimakan enak untuk orang lain bukan hanya diri sendiri semata

Minggu, 17 November 2019

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Keputusan bukan hanya sekedar wacana yang perlu disebarluaskan dan seluruh dunia tau betapa kamu tidak dalam situasi baik tapi masih “terlihat kuat”

Pada saat sudah tidak kuat dengan situasi tidak hanya sekedar yakin tapi diperlukan keberanian karena pasti akan ada yang tidak rela untuk kau pergi. Pastikan di langkah terakhir tetap lurus ke depan dan tidak menengok ke belakang akan ada perasaan tersirat yang tak rela dan akhirnya memaksakan diri untuk tetap bertahan

Maka perencanaan matang tanpa diketahui banyak orang bukan hanya sekedar modal dasar tapi perlu memikirkan dampak atas segala hal bahkan ketika harus dihadapkan pada situasi merindu.

Maka nyamankanlah dirimu dimanapun berada sekalipun hanya sebuah kebahagian sederhana seperti membahas gosip ga jelas dan tidak memaksimalkan dirimu karena setiap tubuh dan mental memiliki ambang batasnya masing-masing.

Edited by aplikasi canva


Minggu, 13 Oktober 2019

REVIEW NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN

REVIEW NOVEL DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN

PENGANTAR
Siapa sih yang nggak kenal dengan penulis berbakat Indonesia yang bernama asli Darwis ini? Hampir di semua novelnya tidak terdapat biografi beliau. Yap, Tere Liye sudah menghadirkan banyak karya-karya yang brilian yang menurut aku pribadi unik. Dengan tutur kata yang lain daripada yang lain, karya-karya penulis yang seharinya bekerja sebagai akuntan dan baru-baru ini memutuskan untuk menarik bukunya dari penerbit karena masalah pajak terhadap royalti penulis selalu mempunyai tempat di hati para penikmat buku fiksi. Bahkan bisa dibilang hampir keseluruhan novel Tere Liye sudah kubaca
Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin merupakan salah satu karya terbaik Tere Liye yang mana novel ini merupakan novel yang sangat digemari oleh pembaca dalam kesusasteraan Indonesia. memang novel dengan judul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” ini telah terbit bertahun-tahu yang lalu, jauh sebelum karya Tere Liye di kenal orang danjuga digandrungi oleh banyak penggemar novel. Cetakan pertama novel ini di tahun 2010.
Dari beberapa novel karya Tere Liye yang bergenre romance-nya, judul ini satu ini merupakan judul novel yang berhasil menitikkan air mata bagi setiap orang yang membaca dan yang masih memiliki hati nurani.
Karena di dalam buku atau novel ini, kita akan dibawa pada keadaan yang benar-benar pelik, antara kenyataan yang menghimpit keluarga kecil nan sederhana. Disini banyak sekali potret yang berada di daerah pinggiran Ibu Kota Jakarta. Namun yang di sayangkan, Indonesia tidak hanya di Jakarta saja, teteapi setiap kota maupun desa pasti memiliki lakon yang mirip dengan apa yang sudah digambarkan oleh Tere Liye pada bukunya tersebut. Khas seorang Tere Liye yang mengangkat kehidupan sosial yang membangkitkan jiwa empati pembacanya.

Judul Buku : Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN : 9786020331607
Cover : Orkha Creative
Cetakan : XXX Februari 2019
Genre : Romance

BLURB
Daun yang jatuh tak pernah membenci angin …

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih saying, perhatian dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas, Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona atau entahlah. itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah mengganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah …. Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun … daun yang tidak pernah membenci angina meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

SINOPSIS

Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini mengisahkan kehidupan kakak beradik yang bernama Tania dan Dede yang harus rela putus sekolah dan harus menjadi pengamen dikarenakan keterbatasan ekonomi keluarganya sepeninggal ayah mereka berdua.
Kemudian mereka berdua tinggal di rumah kardus bersama ibu mereka yang mana saat itu sedang sakit-sakitan. Kehidupan mereka benar-benar berubah setelah bertemu dengan seorang pria yang bernama Danar. Danar ini merupakan seorang karyawan yang juga sebagai penulis buku mengenai anak-anak.
Danar adalah orang yang baik sehingga keluarga kecil ini menganggapnya seperti malaikat. Tania benar-benar mengagumi Danar karena selain ia baik, dia juga mempunyai wajah yang menawan. Danar memberikan banyak jalan untuk perubahan pada keluarga mereka baik secara ekonomi dan Pendidikan.  Mereka semakin dekat seperti halnya keluarga. 
Suasana agak berubah saat Danar membawa teman dekatnya bernama Ratna. Tania pun merasa cemburu. Rasa tidak suka itu pun bukan saja sekedar perasaan iri antara seorang adik tetapi Tania kecil ini belum bisa menerjemahkan arti dari perasaannya itu. Kebahagiaan keluarga kecil itu berkurang saat ibu Tania dan Dede meninggal.
Perasaannya terhadap Danar itu pun juga semakin jelas. Lambat laun Tania mengerti bahwa perasaan itu bernama cinta. Tetapi cinta Tania terhadap Danar bukanlah cinta yang mudah. Karena bertahun-tahun mereka telah bersama dalam status kakak adik, apalagi usia mereka terpaut 14 tahun.
Keadaan ini semakin rumit saat Danar memutuskan untuk menikahi Ratna yang merupakan teman dekatnya itu. Tania pun patah hati. Ia pun memutuskan untuk tidak hadir saat pernikahan antara danar dan ratna meski Danar dan Ratna telah membujuknya.
Beberapa waktu berselang, Tania tahu jika kehidupan rumah tangga antara Danar dan Ratna tidak harmoni. Ratna bercerita kepada Tania jika Danar telah banyak berubah. Danar menjadi orang yang pendiam dan seringkali tidak berada di rumah.
Disitu Ratna tahu jika ada sesuatu yang menghalangi mereka, ada sesosok di antara mereka tetapi ia tidak tahu siapakah bayangan itu. Dari cerita Dede sang adik akhirnya Tania tahu jika Danar juga memiliki perasaan yang sama dengan nya.
Danar menuliskan perasaannya itu di dalam novel yang berjudul “Cinta Pohon Linden” yang mana buku itu tidak pernah selesai ia tulis. Draft novel yang dimana tak sengaja ditemukan oleh Dede pada saat buka laptop danar. Perbedaan usia yang terpaut jauh itu membuat Danar merasa tidak pantas jika harus mencintai Tania. Karena tidak seharusnya jika ia harus mencintai gadis kecil seperti Tania.

Sebelum saya disini akan melakukan Review terhadap novel “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, saya akan memaparkan dari unsur intrinsik serta unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel ini diantaranya sebagai berikut;



Unsur Intrinsik
a. Tema : Cinta Rahasia yang Menyakitkan
b. Gaya Bahasa:
Hiperbola : Demi untuk membaca e-mail yang berdarah-darah itu, esoknya aku memutuskan utnuk pulang segera ke Jakarta (Hal. 230)
Metafora : Bagian tajamnya menghadap ke atas, kemudian tanpa ampun menghunjam kakiku yang sehelai pun aku tak beralas saat melewatinya. (Hal. 22)
Personifikasi :Menuju ke tempat rumah kardus ini kami dulu berdiri kokoh dihajar derasnya huja, ditimpa terik matahari. (Hal. 231)
Personifikasi :Hujan deras turun telah membungkus kota ini (Hal. 13)
c. Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama
d. Tokoh dan Penokohan:
Tania:
Tekun (Banyak prestasi dan mendapat beasiswa sekolah di Singapura) bahkan pada saat sekolah ia lompat kelas dan paling pintar di kelasnya
Ramah (Disukai banyak orang) 
Konsisten (Hanya mencintai Danar, meski banyak juga lelaki yang mencintainya) sehingga ia dingin kepada semua laki-laki
Pantang menyerah (Menjalani kehidupan)
Dede:
Sering iseng
Pandai menyimpan rahasia
Polos
Tidak bisa jauh dari sosok ibu
Ibu:
Tekun serta tidak mengandalkan orang lain
Sabar (Sabar menjalani hidup)
Tahu diri dengan tidak memanfaatkan kebaikan orang lain
Danar :
Suka menolong (Menyewakan kontrakan)
Pemendam rasa (Memendam perasaan cintanya terhadap Tania)
Bertanggung jawab (Mengurusi Dede dan Tania, sepeninggal ibu mereka berdua)
Tidak jujur dengan perasaannya cintanya
Ratna:
Tidak suka berprasangka buruk
Tidak cemburuan
Sabar
e. Alur : Pada awal cerita mundur kemudian pada akhir cerita campuran
f. Latar :
Tempat : Rumah Tania, Asrama Tania di Singapura,Toko Buku
Waktu : Pagi, siang, sore dan malam
Suasana :Sedih, Hening, duka, senang, tegang, rindu
g. Amanat :
Ceritakanlah apa yang dirasakan hatimu meskupun itu susah dalam kenyataannya, tetap berusah untuk meyakinkan diri jika dengan menceritakan apa yang sedang kita rasakan akan melegakan serta menentramkan hati kita sendiri dengan tidak memendam suatu perasaan.
h. Plot :
Perkenalan:
Saat Danar menolong Tania yang tertusuk paku. Kemudian Danar mengenal Tania dan Dede, lebih dalam lagi, hingga Danar pun sering mengunjungi rumah Tania. Kemudian danar juga sering membantu perekonomian keluarga Tania.
Sampai pada akhirnya Tania dan Dede bisa bersekolah kembali. Tania juga mendapatkan beasiswa ke Singapura.

Pertikaian:
Saat Danar hendak menikah dengan Ratna teman dekatnya itu, Tania tidak mau datang ke pernikahan tersebut. Lalu Selama beberapa tahun Tania dan Danar sama sekali tidak berkomunikasi.
Klimaks:
Saat Danar dan Tania bertemu di daerah rumah kardus Tania dulu. Di situ mereka mengutarakan perasaan masing-masing yang sebenarnya.
Antiklimaks:
Saat Danar dan Tania mengetahui jika Ratna sudah hamil 4 bulan, kemudian pada akhirnya Tania menerima dengan keadaan tersebut, dan dia pun tidak akan kembali ke Indonesia dan akan tetap berada di Singapura, hal itu dilakukan agar perasaannya kepada Danar tidak kembali seperti kejadian saat di Indonesia.

Unsur Ekstrinsik
Nilai Sosial :
Menolong orang dengan ikhlas dan tidak memandang siapa yang di tolong seperti dalam novel bahwa tokoh Danar menolong Tania dengan tidak memandang Tania itu siapa.
Nilai Moral :
Memberi pengetahuan terhadap kita bahwasanya sesuatu yang terlihat sulit ternyata tidak sesulit apa yang kita lihat apabila kita melakukannya dengan bersungguh sungguh untuk mencapainya seperti dalam novel ini.
Tokoh Tania yang memiliki sifat pantang menyerah di dalam menjalani hidupnya meskipun banyak sekali rintangan yang menghalanginya.
Ia memegang janji apa yang ia katakan “Aku menyeka sudut mataku yang berair. Tidak. Aku telah berjanji kepada Ibu untuk tidak menangis lagi. Bila menangis hanya di karenakan mengingat semua kenangan buruk itu.” (Hal. 31)

Setelah saya memaparkan unsur intrinsik dan ekstrinsik terhadap novel “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” maka sudah bisa dilakukan penilaian yaitu mengenai kelemahan serta kelebihan pada novel karya Tere ini.
Kelemahan yang ada di dalam novel ini antara lain; menurut saya cerita novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin ini klise, sedikit mirip dengan kisah-kisah romance pada umumnya.
Novel Karya Tere Liye yang lainnya selalu membuat saya betah untuk membaca tanpa ada keinginan pun untuk melewati meng-skip masing-masing atas setiap bagian cerita. Tapi saat membaca novel ini, berkali-kali saya telah lewatkan bagian-bagian yang berasa membosankan.
Berbeda dengan karya yang lain, walaupun sederhana tetapi bisa terasa istimewa melalui penuturannya yang memang apa adanya. Tetapi tetap saja jika di dalam novel ini memberikan banyak pelajaran bagi para pembacanya.
Terutama adanya filosofi “daun yang jatuh tak pernah membenci angin”. Yang maksudnya adalah Apapun yang sedang/telah kita alami, jangan pernah kita untuk menyalahkan keadaan.
Kelemahan lain dari novel yang satu ini sepertinya Tere Liye tidak menggunakan Editor ataupun penyunting di dalam penerbitan novelnya, disini saya tidak melihat nama dari editor di halaman ISBNnya. Tetapi, semua itu tidak sedikitpun mengurangi makna dari ceritanya. 
Cover terbitan ini sudah ke versi baru yang dimana lebih minimalis dan sweet, walau untuk beberapa pembaca novel ini lebih senang dengan seri cover sebelumya

Pesan
Isi dari novel ini cukup untuk membuka mata kita jika cinta tak pernah mengenal usia serta cinta itu membutuhkan suatu kejujuran.
Novel ini juga menarik karena dibuat seperti teka-teki di dalam alur cerita serta pada nama tokohnya, sehingga akan membuat para pembacanya menjadi penasaran untuk terus membaca sampai selesai. Walaupun begitu, alur campuran digunakan terkadang cukup untuk membuat pembacanya menjadi cukup kesulitan.
Nah, bagian akhir cerita ini yang tidak digambarkan secara jelas yang membuat para pembacanya menafsirkan ending yang berbeda-beda sesuai dengan apa yang mereka fikirkan masing-masing. Kelebihan dari novel ini tentunya sangat banyak. Tere Liye telah berhasil mengajak para pembaca untuk mempunyai logika dalam berpikir yang lebih rasional serta berbeda. Mengambil ia juga mampu kesimpulan tidak hanya dari satu sudut pandang, tetapi lihatlah atas sudut pandang lainnya. Jadi bagi pembaca yang mengikuti novel-novel Tere Liye pasti sudah paham gaya khas Tere Liye dalam membuat ending suka bikin gemas-gemas gimana gitu dengan endingnya.

Dengan adanya hal demikian, segalanya akan terasa adil serta masuk akal. Secara tidak langsung kamu akan menerima semuanya dengan lapang tanpa sedikitpun untuk membantah, seperti “daun yang tidak pernah membenci angin” yang telah menerbangkannya ke sana kemari.

Disini kita harus menerima sebuah takdir serta garis kehidupan yang telah ditentukan Tuhan. Karena apapun yang terjadi, hidup haruslah terus berjalan.
Bahasa yang digunakan di dalam novel ini sangat puitis, penggunaan bahasanya pun sangat tepat sehingga novel ini mampu menyentuh hati dan membuat imajinasi muncul saat membacanya. Meskipun demikian ada beberapa gaya bahasa yang sedikit sulit untuk dipahami bagi kaum awam.
Di dalam bahasa percakapan dalam novel ini bersifat narasi serta dialog, sehingga saat membacanya tidak terlalu memberikan efek jenuh atau kebosanan, malah disini kita di ajak untuk melihat hal sangat bervariatif, segar, dan menarik.

Akhirnya karya Tere Liye yang berjudul Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Anginini telah memberikan pemahaman kepada kita dan khususnya untuk para remaja, jika cinta itu tak pernah mengenal usia serta butuh sebuah kejujuran.
Kita tidak boleh untuk membenci terhadap orang yang sudah membuat kita jatuh cinta terhadpatnya. Semoga cepet nikah aja deh, nggak usah kelamaan.
Demikian tadi pembahasan kita mengenai Resensi dan Sinopsis Novel Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Jika ada sesuatu yang ingin di tanyakan silahkan comment di form yang telah disediakan. Semoga bermanfaat, sekian dan terima kasih.


Minggu, 08 September 2019

SELAMAT HARI LITERASI INTERNASIONAL

Edited by aplikasi Canva mobille

Membaca buku bukan hanya sebuah gaya hidup bagi saya tapi menjadi bagian hidup dimana bila dilihat pada tulisan sebelumnya sudah seringkali dibahas tentang membaca dan buku bahkan beberapa kali publikasi untuk review buku di instagram karena bergabung dalam komunitas yang harus setor satu minggu satu buku (walaupun suka bolong-bolong) sama halnya dengan bercerita dalam blog hingga bergabung dengan komunitas 1minggu1cerita ya sama walaupun suka bolong-bolong. Paling tidak pada saat tidak melakukan review buku yang dimana sebelumnya kita baca dulu bukunya dan tidak bercerita dalam blog maka sedikit malu.

Itu salah sekian cara agar saya terarah literasinya tidak hanya baca buku, larut akan kisahnya dan selesai. Share melalui media adalah cara berbagi kepada orang lain yang mudah-mudahan positif sehingga secara tidak langsung ada yang meniru dan mengikuti. Berbicara literasi bukanlah hal yang baru apalagi profesi saya sekarang sebagai guru dan sekolah masih menerapkan program GLS 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Bagus programnya akan tetapi ada beberapa yang perlu di evaluasi dalam pelaksanaannya, buat saya yang orang tidak sembarang berbicara sistem jadi cukup mengamati terlebih dahulu ya tau sendiri kalau di kehidupan kita apabila ada orang yang mengkritik sistem akan dikecilkan peran atau ditunjuk untuk mengurusi program tersebut. Jadi yang saya lakukan adalah biarkan sebagian besar lingkungan sekitar mengetahu bahwa saya sudah melaksakan program literasi walaupun tidak sebesar sampai menghasilkan karya komersial.

Gerakan literasi tidak hanya sekedar memindahkan kalimat buku karena sejatinya menurut wikipedia Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Literasi pun tidak hanya sekedar menyuruh orang untuk literasi sementara dirinya hanya bisa untuk memberikan perintah kepada orang lain tanpa pernah melakukan aktivitas literasi, apalagi minimal membaca buku. Ingat membaca sosmed bukan bagian dari makna literasi sesungguhnya. 

doc.pribadi

Aktivitas beli buku menjadi cara untuk menghadiahi diri sendiri atas lelah selama satu bulan. Lupa kapan terakhir beli buku karena beberapa bulan ke belakang lagi suka baca buku online dan pinjam buku ke teman. Ini belum termasuk buku penunjang mengajar yang dimana akhirnya itu didahulukan ketimbang novel.

Sesuai dengan tanggal ini yaitu 8 September bertepatan dengan hari literasi, maka ku ucapkan "Selamat Hari Literasi Internasional"