Minggu, 01 November 2020

LIKA LIKU TRADISI PADA BUKU KETIKA SAATNYA KARYA DARMAWATI MAJID

 

Edit by Photogrid


Judul Buku : KETIKA SAATNYA 

Penulis : Darmawati Majid 

Penerbit : Kepustakan Populer Gramedia 

vi + 143 pages ; 11,5 cm x 17,5 cm 

978-602-481-139-6

Baca melalui aplikasi Gramedia Digital


“Cinta selalu kalah saat berhadapan dengan takdir dan adat.”

(hal.44)

 

Ketigabelas kisah dalam buku ini adalah kumpulan cerita perempuan menghadapi tradisi dan keluarga dengan latar tempat Bugis Makassar dan kental dengan budaya patriarki. Perempuan dianggap berada dalam lapisan sosial kedua. Setinggi apapun pendidikan, perempuan harus kembali ke dapur. Lalu untuk menjaga siri', perempuan ini dihargai sesuai statusnya. Ketigabelas cerita itu adalah :

1. Tentang Hal Yang Membawamu ke Sebuah Warung Coto di Pinggiran Kota pada Suatu Hari Sekitar Pukul 10 Pagi

2. Perempuan yang Terkunci Pintu Jodohnya

3. Ningai

4. Kiriman dari Inggris

5. Losari

6. Passampo Siri'

7. Nasu Likku

8. Kak Sulaeman

9. Pelahap Telinga

10. Uang Panaik

11. Ketika Saatnya

12. Buat Apa Sekolah?

13. Puang Biccu


Ketigabelas judul diatas,  diangkat dari tema yang beragam dari masalah perselingkuhan, uang panaik (uang yang diminta keluarga wanita kepada calon mempelai pria untuk biaya pernikahan dll), jodoh yang tak kunjung datang, peran perempuan dalam rumah tangga, kerinduan seorang adik kepada kakak laki-lakinya yang telah meninggal, pendidikan bagi perempuan hingga masalah mistis dalam cerpen terakhir berjudul Puang Biccu.


Ada 3 cerita yang membuat saya ikut larut dalam perasaan yaitu Losari, Pasampo Siri dan Uang Panaik. Bagaimana tidak seorang pria telah beniat baik untuk menikahi seorang perempuan namun niatan tersebut tak berujung pada kenyataan. Bukan sosok pria yang ingkar janji namun lagi dan lagi persoalan tradisi dan keluarga. Menjadi bahan pemikiran yang akan menikah orang tua atau anaknya? Mengapa harus dipersulit sedangkan perempuan menginginkan hal sederhana.


Sosok orang tua seperti Petta Tiro pada judul "Buat Apa Sekolah?", tentu amat dirindukan oleh sebagian besar anak, tokoh seorang bapak yang memiliki pemikiran bahwa sekolah adalah tabungan jangka Panjang. Terbukti Sidar mampu mengangkat derajat keluarganya dan memajukan perekonomian daerahnya.


Buku banyak menyisipan kearifan lokal Sulawesi Selatan, teutama Bugis Makasar, yang belum pernah digali secara mendalam  dan diksi penulis memiliki permainan logika bagi yang menyukai isu-isu sosial. Kisah pada buku ini sedikit menguras emosi.


Berkenalan dengan kumcer ini, melalui program baca bareng di Komunitas Gerakan One Week One Book. Tidak menyangka akan sesuka ini dan merasa tertampar terhadap ragam tradisi dan budaya yang ada di Indonesia, ternyata banyak yang belum kuketahui.



Tulisan ini sudah pernah di upload di Instagram dengan penambahan yang dibutuhkan :  https://www.instagram.com/p/CG-ZLGcgaJm/?utm_source=ig_web_copy_link

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar